Kekerasan di Sekolah Melonjak, FSGI: Perlu Ada “Screening” terhadap Guru Secara Berkala

  • Whatsapp
Para orang tua siswa ikut mengamati kelas pada hari pertama sekolah di sebuah sekolah dasar (foto: ilustrasi).

Melihat terus merangkak naiknya kasus kekerasan di sekolah, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mendesak dilakukannya “screening” atau pemeriksaan intensif para guru secara berkala. 

Rindu Syahputra Sinaga (14 tahun), siswa SMP Negeri I Sinembah Tanjung Muda Hilir, Deli Serdang, Sumatra Barat, akhir September lalu merenggang nyawa setelah dihukum squat jump 100 kali oleh gurunya hanya karena tidak mengerjakan tugas sekolah.Selang beberapa hari kemudian, seorang siswa di pondok pesantren Al Mahmud Ponggok, di Blitar, Jawa Timur, juga tewas terkena lemparan kayu berpaku oleh pendamping pondok itu karena mengelak saat disuruh mandi. MK yang berusia 13 tahun tewas seketika.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ini adalah beberapa kasus kekerasan di sekolah, yang diyakini jumlah sebenarnya jauh lebih banyak tetapi tidak dilaporkan.

Ketua Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan kekerasan terhadap murid antara lain disebabkan oleh faktor pendisplinan yang tidak benar. Perilaku anak atau murid yang dinilai guru “tidak tepat,” didisiplinkan dengan kekerasan.

“Karena guru-guru ini merespon perilaku tidak tepat murid-murid, itu dengan cara sebagaimana pengalaman dia dulu. Jadi ketika dulu dia dibesarkan dengan pendisplinan kekerasan maka dia akan melakukan hal itu pada muridnya.Jadi itu pengaruh. Kondisi-kondisi mental yang tidak baik juga menjadi penyebab,” ujar Retno kepada VOA, Sabtu (5/10).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *