“Israel dengan tegas menolak dekrit internasional tentang pengaturan permanen dengan bangsa Palestina. Pengaturan semacam itu akan dicapai melalui negosiasi langsung kedua belah pihak. Pengakuan semacam itu, setelah pembantaian pada 7 Oktober, akan menjadi semacam hadiah besar bagi teror,” kata Netanyahu.
Dia merujuk pada serangan teroris tahun lalu dimana kelompok militant Hamas membunuh sekitar 1.200 orang dan menahan sekitar 240 orang sebagai sandera.
Pemungutan suara di Kabinet Israel dilakukan sehari setelah Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken bertemu dengan Presiden Israel, Isaac Herzog di sela-sela konferensi keamanan Munich. Meskipun menjadi pendukung kuat bagi negara Yahudi, AS juga sejak lama mendukung solusi dua negara untuk mengakhiri secara permanen konflik di Timur Tengah.









