Pemilih perempuan berjumlah  lebih dari setengah pemilih di Pemilu 2024.  Apakah pemilih perempuan juga memilih caleg perempuan?  Jika tidak, apa alasannya?

  • Whatsapp

Hani Hendrina, karyawati salah satu perusahaan swasta di Jakarta sangat yakin akan calon presiden dan wakil presiden yang dipilihnya, tapi tidak dengan calon legislatifnya. Dia mengaku memilih caleg dengan mengikuti pilihan orang tuanya, seorang caleg laki-laki. Hani enggan menyebut namanya.

Ketika ditanya kenapa tidak memilih caleg perempuan yang pastinya bakal menyuarakan hak-hak perempuan, atau setidaknya ikut memberi perspektif perempuan dalam setiap pengambilan kebijakan, Hani yang berusia 25 tahun mengatakan ia tidak mengenal calon legislatif perempuan yang ada, termasuk visi misinya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Tidak terlalu familiar sih, kurang tahu di masyarakat lebih kebanyakan yang cowok. Perlu sih sosialisasi seperti kayak anak muda, kita gak tahu seperti caleg-caleg perempuan, orang tua aja tidak tahu caleg perempuannya apalagi kita. Jadi fokusnya ke presiden aja,”ungkapnya.

Hal senada disampaikan Firda Sutomo, warga Depok, Jawa Barat, yang juga memilih caleg bukan berdasarkan gender, tapi gelar yang tersemat di nama caleg tersebut.

Firda sama sekali tidak punya gambaran tentang caleg perempuan yang ada dalam surat suara, tidak hanya identitas mereka tetapi juga apa visi misinya. Ironisnya meskipun ia juga tidak tahu tentang caleg laki-laki yang ada dalam surat suara, tetapi karena caleg laki-laki memasang banyak gelar pendidikan dan lainnya, Firda pun memilihnya. Ia menilai dengan gelar yang banyak, pastinya sang caleg laki-laki ini memiliki banyak pengetahuan dan bisa membawa kondisi yang lebih baik bagi Indonesia.

Meskipun demikian Firda mengakui pentingnya caleg perempuan di parlemen untuk memperjuangkan hak-hak perempuan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *