Psikolog dan Petugas Kesehatan Jadi “Pendengar”
Setelah menjalani pemeriksaan dan konsultasi dengan psikolog di rumah sakit itu, diketahui bahwa Fonny memang sedang mengalami stress cukup tinggi. Praktisi kesehatan yang ditemui menyarankannya untuk berdamai dengan diri sendiri, beristirahat sejenak dari isu politik dan mengubah pola hidup, termasuk dengan berolahraga.
Fonny tampak tenang seusai pemeriksaan itu, dan bahkan menyarankan kepada peserta pemilu dan masyarakat yang merasakan hal serupa untuk tidak malu-malu meminta pertolongan kepada pihak profesional.
“Buat tim sukses baik dari caleg, baik dari partai, baik dari calon presiden ya kalau memang merasa ibaratnya setelah pemilu ini ada gangguan (mental), tidak ada salahnya untuk datang ke tempat-tempat seperti di RSUD Taman Sari ini. Mungkin nanti di rumah sakit-rumah sakit lain, atau dari dinas kesehatan yang mengadakan tes seperti ini, Saya rasa alangkah baiknya untuk ikut untuk memastikan bahwa kita ya baik-baik saja atau memang kondisi kita nge-drop, lalu nanti bagaimana cara kita untuk me-recovery-nya gitu,” jelasnya.
Hal senada juga dirasakan oleh Muhammad Agil, tim capres dan caleg lainnya. Ketika mengetahui bahwa capres dan calegnya kalah dalam pemilu 2024 ini, ia merasakan kelelahan yang luar biasa. Laki-laki berusia 58 tahun ini pun tergerak untuk memeriksakan kesehatan mentalnya.
“Kebanyakan karena kita sudah berusaha keras, susah payah, hasilnya gagal. Jadi ada istilahnya beban mental. Timbul kekecewaan saja, kita sudah berusaha keras tapi hasilnya minim,” ujar Agil lirih.
Hasil pemeriksaan menunjukkan kondisi mentalnya baik, tetapi dokter tetap menyarankannya beristirahat dan mengubah pola hidup ke arah yang lebih sehat.
“Faktor utama sebenarnya kepasrahan diri sama Allah SWT kurang, dianggapnya usaha ini bakal menghasilkan. Nyatanya semua itu Tuhan yang menentukan, kita hanya sekedar berusaha,” tambahnya.
Ia berharap ke depan, seluruh peserta pemilu memperkuat kondisi mental dan fisik sebelum bertarung dalam sebuah pesta demokrasi, agar tidak terlalu kecewa dan depresi ketika hasil pemilu tidak sesuai harapan.
Kepala Seksi Pelayanan Medik dan Keperawatan RSUD Taman Sari dr Ngabila Salama mengatakan pihaknya bekerja sama dengan RS Soeharto Heerdjan di Grogol, Jakarta Barat dan Puskesmas Kecamatan Taman Sari untuk melayani pemeriksaan kesehatan mental petugas KPPS, simpatisan pemilu dan masyarakat umum secara gratis. Mereka menargetkan 100 orang. Namun saat VOA tiba Selasa siang (20/2), jumlah yang mendaftar sudah 95 orang, yang terdiri dari empat petugas KPPS, dan 12 anggota timses caleg.
“Kami mendapat instruksi dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk memberikan layanan kesehatan fisik dan mental kepada partisipan pemilu. Khusus petugas KPPS, awalnya hanya pemeriksaan kesehatan fisik, tetapi kemudian diperluas; sementara layanan kesehatan mental dalam hal ini bagi caleg dan juga timses,” ungkap dr Ngabila.








