Sementara itu, Presiden Lituania Gitanas Nauseda menyatakan keprihatinannya dengan situasi geopolitik saat ini.
“Sayangnya, sejak pertemuan terakhir kita di Dewan Eropa, situasi geopolitik belum membaik. Sebaliknya, kondisinya justru memburuk. Dan saat ini ada dua titik panas dalam lanskap geopolitik. Ada titik panas di Timur Tengah dan juga di Ukraina,” tutur dia.
Dengan munculnya konflik baru di Timur Tengah, presiden Lituania itu menyatakan kekhawatirannya bahwa Uni Eropa akan kehilangan fokus pada Ukraina. Nauseda menyatakan bahwa minggu lalu dia bertemu dengan Presiden Volodymyr Zelensky di Vilnius, dan dia memberitahunya bahwa Ukraina sangat membutuhkan sistem pertahanan udara, peluru artileri, dan juga rudal.
Dia menambahkan bahwa setiap siang dan malam, Rusia mengebom kota-kota di Ukraina, dan pemboman itu telah menyebabkan kehancuran infrastruktur, kematian banyak orang. “Dan, tahukah Anda? Sangat disayangkan bahwa kita mengambil berbagai keputusan, tetapi kita tidak melaksanakan keputusan-keputusan itu,” tegasnya.
Pernyataan senada disampaikan oleh Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Josep Borrell. Ketika berbicara kepada para wartawan menjelang pertemuan para menteri luar negeri G7 (Kelompok Tujuh) yang dimulai pada Kamis di pulau wisata Capri, Italia, dia mendesak para pemimpin Barat untuk memberikan dukungan yang sangat dibutuhkan kepada Ukraina dalam perang dua tahun dengan Rusia. [Red]#VOA








