Insiden Penangkapan dan Pelecehan Turunkan Indeks Kebebasan Pers AS

  • Whatsapp
Polisi mengamankan pintu masuk Universitas Columbia yang diduduki oleh pengunjuk rasa pro-Palestina di New York pada 22 April 2024 (foto: dok). Sejumlah wartawan di berbagai penjuru AS ditangkap atau dilecehkan ketika meliput unjuk rasa terkait perang Israel-Hamas.

Selain lingkungan media yang semakin sulit, juga ada persoalan ekonomi. Para analis melihat adanya pertumbuhan “gurun berita”, sebuah kondisi yang disebut ketika suatu komunitas masyarakat hanya memiliki sedikit atau bahkan tidak ada liputan khusus sama sekali. Akibatnya, semakin sedikit wartawan yang tersisa untuk bertindak sebagai pengawas publik.

Sabrina Eaton, reporter Cleveland Plain Dealer mengatakan bahwa dirinya adalah salah satu reporter yang tersisa untuk meliput Kongres bagi pemirsa di Ohio.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Kami seharusnya memberi tahu orang-orang tentang apa yang sedang terjadi. Jika tidak ada yang memberi tahu tentang apa yang dilakukan anggota Kongres mereka, itu adalah sebuah tragedi,” sebut Eaton.

Melihat disinformasi dan ketidakpercayaan terhadap media “yang belum pernah terjadi sebelumnya”, Weimers mengatakan bahwa wartawan memiliki tanggung jawab yang besar.

“Kita cenderung menganggap kebebasan pers sebagai hak para jurnalis, tetapi ada juga elemen yang merupakan kewajiban jurnalis. Jurnalis juga memiliki kewajiban moral untuk memberi objektivitas, meliput isu-isu secara adil, transparan, dan bertanggung jawab ketika mereka melakukan kesalahan,” pungkasnya.

Namun, menurut RSF tidak semuanya hilang. RUU Pers, yang mendapat dukungan bipartisan di DPR dan Senat Amerika Serikat, akan memberi perlindungan yang lebih besar bagi jurnalis dan sumber mereka dari permintaan informasi oleh pemerintah, jika disahkan menjadi undang-undang. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *