Hasbi Aswar, pengamat hubungan internasional dari Universitas Islam Indonesia mengatakan gencatan senjata di Jalur Gaza itu merupakan sebuah pencapaian yang bagus karena itu akan membuat bantuan kemanusiaan bisa masuk, proses rekonstruksi Gaza akan bisa dilaksanakan, dan menghentikan jatuhnya korban.
Meski demikian Hasbi mengatakan tetap pesimis Israel akan mematuhi kesepakatan gencatan senjata ini karena Israel pada dasarnya memang tetap tidak ingin keluar dari Gaza, sementara Hamas sudah berkuasa di sana dan Israel menilai keberadaan organisasi ini sebagai ancaman.
Israel, tambah Hasbi, ingin menciptakan pemerintahan sipil di Gaza yang tidak Islamis, yang sejalan dengan kepentingan Israel. Yang menjadi masalah, Israel mengajak Fatah untuk memerintah di Gaza padahal Fatah sudah sepakat dengan Hamas untuk membentuk pemerintahan persatuan nasional tersendiri.
“Apalagi kondisi di dalam Israel khan terbelah. Ada yang ingin gencatan senjata, tapi banyak pula – terutama pendukung Netanyahu – ingin perang tetap dilanjutkan karena mereka belum betul-betul yakin Hamas itidak akan mengancam mereka,” ujarnya.
Menurut Hasbi, ada sejumlah faktor yang bisa membuat gencatan senjata di Gaza permanen, antara lain jika ada tekanan yang kuat dari Amerika; dan tentunya tekanan di dalam negeri.
Pengamat: Pesimis, Tapi Gencatan Senjata Setidaknya Jadi Jeda Konflik
Diwawancarai secara terpisah pengamat hubungan internasional di Universitas Diponegoro Mohamad Rosyidin mengatakan kesepakatan gencatan antara Hamas dan Israel ini patut disambut baik untuk menghentikan kekerasan dan mengembalikan stabilitas di kawasan Timur Tengah, meskipun sebagaimana Hasbi Aswar, ia pesimis.
“Saya pesismis dengan itu karena konflik di Gaza ini sebetulnya yang sulit untuk kompromi adalah Israel. Israel yang tidak mau menerima solusi dua negara, yang menjadi solusi ideal untuk menyudahi konflik di kawasan. Faktor Israel ini menjadi ganjalan terbesar untuk mewujudkan perdamaian abadi di kawasan itu,” tegasnya.








