Dia menambahkan bahwa evakuasi dimulai pada Rabu pukul 18.00 waktu setempat, tetapi tertunda karena masalah administrasi dan logistik.
Hujan yang turun sejak Kamis pagi kian menghambat proses tersebut, ujar Irfan.
Menurut wartawan AFP, warga masih melakukan aktivitas sehari-hari di desa masing-masing saat truk bersiap untuk evakuasi.
“Tentu saja ada ketakutan dan kekhawatiran, tapi kami sudah terbiasa dengan letusan di sini,” kata Rista Tuyu, seorang warga yang berusia 32 tahun.
“Dalam seminggu, letusan bisa terjadi tiga hingga empat kali, tapi yang terbesar terjadi pada minggu ini,” ujarnya.
Gunung Ibu menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan sejak Juni lalu, menyusul serangkaian gempa bumi.









