Gagasan Menari untuk Semua, Siapa pun Bisa

  • Whatsapp
Lutfi (kedua dari kanan) dalam Tari Kaksa di panggung Nalitari. (Foto: Sanghoon Ok)

Lutfi Diah Nur Ramadani, 28, penyandang tuna grahita atau sindrom down (down syndrome), telah menjadi anggota Nalitari sejak Nalitari dibentuk tahun 2013. Ia sangat senang menari, terlebih jika pentas bersama teman-temannya, tutur ayahnya, Supriyana yang mendampinginya.

Ayahnya mengatakan, gerakan tari Lutfi bisa berubah sewaktu ia pentas bersama teman-temannya karena ia merasa senang bisa tampil menari bersama mereka. Lutfi bukan satu-satunya difabel yang bergabung dengan Nalitari.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Ada yang pakai kursi roda, ada yang pakai tongkat. Nalitari itu khususnya tidak hanya untuk anak-anak yang normal, tapi Nalitari memang menjadi wadah bagi siapa pun yang ingin menari.”

Lutfi telah pentas di berbagai panggung baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Tahun lalu ia pentas di Korea Selatan pada acara Accessible Dance Festival.

Lutfi (kedua dari kanan) sebelum pentas dalam ajang "International Accessible Dance Festival 2023" di Korea. (Courtesy: Nalitari)
Lutfi (kedua dari kanan) sebelum pentas dalam ajang “International Accessible Dance Festival 2023” di Korea. (Courtesy: Nalitari)

Arsa, seorang pekerja kreatif yang suka menonton pentas Nalitari merasa kagum dengan komunitas itu yang secara konsisten mampu memberikan ruang untuk siapapun dengan melatih emosi dan kemampuan percaya diri, yang diungkapkan melalui gerak tari.

“Saya berharap Nalitari dapat terus bertumbuh dan mengembangkan talenta, terutama untuk difabel dengan menerapkan ide-ide yang dipadu dengan khasanah keberagaman seni tradisi Indonesia,” ujarnya.

Menurut komunitas Nalitari, dengan menemukan keberagaman talenta itu, dan pendapat bahwa semua orang – termasuk para difabel – bisa menari, maka “kita semua diharapkan bisa bebas dari diskriminasi dan keterasingan sosial.” [Red]#VOA