Gagasan Menari untuk Semua, Siapa pun Bisa

  • Whatsapp
Lutfi (kedua dari kanan) dalam Tari Kaksa di panggung Nalitari. (Foto: Sanghoon Ok)
Pendiri Nalitari, Yoana Wida (paling belakang), bersama Nurul Jamilah (dua dari kiri), Putri Raharjo (kanan) dan Tiara Brahmarani (paling depan). (courtesy: Nalitari)
Pendiri Nalitari, Yoana Wida (paling belakang), bersama Nurul Jamilah (dua dari kiri), Putri Raharjo (kanan) dan Tiara Brahmarani (paling depan). (courtesy: Nalitari)

Sedangkan visinya, menjadi kiblat tari inklusif di Indonesia dan dunia dengan memberdayakan semua anggotanya melalui program dan kepemimpinan inklusif yang berkualitas tinggi, untuk menyadarkan perubahan sikap terhadap keberagaman manusia.

Maka bersama tiga temannya, Putri bersama Nurul Jamilah, manajer kreativitas dan dua pendiri lain (co-founder) Tiara Brahmarani sebagai co-director dan Yoana Wida sebagai program manager, dan menangani humas dan marketing, pada tahun 2013 membentuk komunitas Nalitari inklusif di Yogyakarta.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Nurul Jamilah, manajer kreatif dan penata tari di Nalitari dalam program "On display Global", memperigati Hari Difabel Internasional. (Courtesy: Nalitari)
Nurul Jamilah, manajer kreatif dan penata tari di Nalitari dalam program “On display Global”, memperigati Hari Difabel Internasional. (Courtesy: Nalitari)

Lantas bagaimana Nalitari mengajar sebagian anggotanya yang disabilitas? Kepada VOA, Nurul Jamilah menjelaskan, “Kami punya pandangan bahwa semua orang bisa menari. Jadi kami menerima semua gerak dalam tubuh teman-teman itu, karena memang di Nalitari dasar gerakannya adalah improvisasi gerak. Kami menghormati atau memberi ruang untuk siapa saja menari dengan gerakan yang mereka punya, apapun gerakan itu kita anggap semuanya itu indah.”

Ditanya VOA bagaimana dengan anggota tuna rungu jika mereka harus menari dengan iringan musik? Nurul Jamilah, yang adalah alumni Universitas Negeri Yogyakarta, mengatakan, “Teman tuli kami gabung tampilnya dengan anak dengar. Itu bisa membantu mereka, tanpa harus memberikan bahasa isyarat di depan panggung, tetapi teman-teman tuli bisa melihat teman-teman lain yang dengar, untuk menuntun mereka dalam bergerak.”

Tanpa iuran, tanpa tiket masuk

Komunitas nirlaba ini tentu tetap memerlukan dana untuk kelangsungan kegiatannya. Mengenai sumber dana yang diperlukan, Putri Raharjo menjelaskan, “Untuk kelangsungan komunitas ini, seandainya kami menerima pekerjaan, kami akan membagi hasil dari pekerjaan itu dan disisihkan sedikit untuk kas komunitas. Lalu yang sedikit lagi dibagi untuk para penari yang terlibat dalam pekerjaan itu.”

Nalitari sendiri tidak menarik iuran dari para anggotanya, dan juga tidak memungut karcis masuk dari para penontonnya ketika pentas. Namun komunitas ini sudah lebih dari cukup mendapat “pesanan” pentas dari berbagai kalangan, dan juga bisa “membuat dan menjual” karya tarinya, misalnya ke British Council atau untuk lokakarya tari.

Luthfi (kanan) bersama sesama rekan Tuna Grahita, Mirza, saat mementaskan tari bertajuk "Melangkah", hasil kolaborasi Nalitari dengan orkestra Pandega Kamajaya. (courtesy: Nalitari)
Luthfi (kanan) bersama sesama rekan Tuna Grahita, Mirza, saat mementaskan tari bertajuk “Melangkah”, hasil kolaborasi Nalitari dengan orkestra Pandega Kamajaya. (courtesy: Nalitari)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *