Seni untuk semua, termasuk seni lukis dan seni tari. Seni apa pun bisa dirasakan oleh siapa saja, tidak terkecuali para disabilitas. Oleh karena itu, sebuah komunitas tari di Yogyakarta yang menamakan diri Nalitari dibentuk untuk mengilhami perubahan sikap terhadap keberagaman manusia.
YOGYAKARTA | DN – Inspirasi itu disebarkan dan dirasakan melalui pengalaman-pengalaman Nalitari dengan berbagai pertunjukan dan lokakarya.Sebagai sebuah komunitas, bukan sanggar tari, Nalitari berkembang dari pola pikir ‘lintas batas.’ Tujuan utamanya, membangun lingkungan sosial yang bebas dari diskriminasi dan keterasingan sosial.
Itulah yang membedakan Nalitari dengan sanggar tari, seperti dijelaskan Putri Raharjo, salah seorang pendiri dan direktur administrasi, keuangan dan pendidikan komunitas itu.
“Nali itu dari bahasa Jawa, artinya mengikat, dan tari adalah tari. Kami ingin mengikat orang-orang melalui tarian. Tapi bukan berarti mengikat yang mengekang, tidak, tetapi lebih ke menyatukan orang-orang ini melalui tarian.”
Orang-orang yang dimaksud Putri Raharjo adalah semua masyarakat dalam berbagai status tadi, tidak terkecuali para difabel.
Misi Nalitari
Nalitari memiliki misi menciptakan ruang aman bagi beragam orang untuk menari dan mengilhami tumbuhnya masyarakat yang lebih inklusif.








