Fenomena Rayapan di Bandung Barat

  • Whatsapp

“Pemerintah sudah menyiapkan Dana Tunggu Harian (DTH) untuk per kepala keluarga yang terdampak bencana ini, besarnya Rp500 ribu per bulan, yang dapat digunakan untuk menyewa rumah baru atau tinggal bersama keluarga besar lainnya. Jika ada bantuan dari sumber lain, akan dibangun huntara (hunian sementara -red), sambil menunggu pembangunan rumah tetap. Jika pembangunan rumah tetap ini cepat, seperti yang dilakukan di Bogor, biasanya memakan waktu dua bulan,” jelasnya.

BNPB mengatakan bencana seperti tanah bergerak, gempa bumi, tanah longsor, jenis rayapan seperti ini, atau gempa bumi tidak dapat diprediksi. (Foto: BPBD Jawa Barat)
BNPB mengatakan bencana seperti tanah bergerak, gempa bumi, tanah longsor, jenis rayapan seperti ini, atau gempa bumi tidak dapat diprediksi. (Foto: BPBD Jawa Barat)

Lebih jauh ia mengakui bahwa bencana seperti tanah bergerak, gempa bumi, tanah longsor, jenis rayapan seperti ini, atau gempa bumi tidak dapat diprediksi. Satu-satunya yang dapat dilakukan warga adalah meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan atas potensi datangnya banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, sambaran petir dan pohon tumbang di masa-masa pergantian musim seperti sekarang.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Butuh Waktu dan Kajian Komprehensif

Wilopo, yang sudah puluhan tahun menekuni bidang ini, mengatakan untuk mencegah terulangnya kejadian-kejadian yang berdampak besar, dan mungkin berpotensi menelan korban jiwa, maka setiap upaya membuka wilayah dan membangun suatu kota membutuhkan waktu yang tidak sedikit.

Sebuah sekolah dasar rusak berat akibat terjadinya fenomena pergerakan tanah di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, terlihat merekah. (Foto: BPBD Jawa Barat)
Sebuah sekolah dasar rusak berat akibat terjadinya fenomena pergerakan tanah di Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat, terlihat merekah. (Foto: BPBD Jawa Barat)

“Ada anggapan bahwa membuka wilayah baru ini pekerjaan teknis yang bisa diselesaikan dengan menambah peralatan, atau menambah SDM, atau menambah jam kerja. Padahal ini suatu proses yang bersinggungan dengan kondisi alam, yang tidak dapat dipercepat begitu saja. Terlebih jika dalam proses ini terjadi sesuatu yang mungkin memperlambat hasil,” katanya.

Wilopo mengilustrasikan dengan menggunakan pembangunan beton sebagai contoh. Untuk memperoleh kekerasan yang memadai sehingga dapat digunakan dalam konstruksi bangunan, diperlukan waktu antara 14 hingga 21 hari.

“Bisa sih dipercepat dengan cairan/larutan kimia, tapi dampaknya bagaimana? Saya sebenarnya agak khawatir melihat percepatan proses pembangunan IKN, yang rasa rasa terlalu tergesa-gesa,” jelas Wilopo.

Ia mengungkapkan kekhawatirannya mengenai kemungkinan terlewatnya tahapan penelitian atau kajian, terutama dalam hal isu-isu yang tersembunyi di balik permukaan, yang menurutnya membutuhkan pertimbangan untuk melakukan penelitian yang lebih detil.

“Ini karena ke depannya akan jadi ibu kota, yang sedianya kajiannya lebih komprehensif. Jangan sampai nanti sudah jadi ibu kota yang di atas permukaan terlihat bagus, tapi nanti ada keruntuhan atau rayapan, dan sebagainya. Kan sayang. Dan jangan lupakan perubahan iklim, yang sangat signifikan kontribusinya pada potensi terjadinya bencana,” tuturnya. [Red]#VOA