
Fenomena Rayapan di Bandung Barat

Meskipun demikian setelah mengkaji berita-berita yang muncul, Guru Besar Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo mengatakan kepada VOA, bahwa yang terjadi di Bandung Barat itu bukan fenomena “sinkhole” tetapi rayapan atau longsor bawah tanah.
“Kalau yang di Bandung Barat itu bukan sinkhole, tetapi longsor jenis rayapan. Ini banyak terjadi di Indonesia karena memang kondisi geologinya begitu. Tipikal rayapan itu ada yang bergerak hanya satu meter per tahun, tetapi karena hujan bisa amblas hingga tiga meter per tahun,” kata Wilopo.
“Rayapan ini tergantung sekali pada air. Luas rayapan ini sangat besar, tidak hanya 100 meter. Saya menemukan di Banyumas itu luasnya hingga 10 hektare,” imbuhnya.
Wilopo mengatakan rayapan tersebut akan selalu bergerak atau merayap hingga stabil. “Tetapi pergerakan ini lebih karena dipicu oleh air, sehingga jika kita bisa mengontrol drainase air di atas dan bawah permukaan tanah, bisa mengurangi potensi terjadinya rayapan.” jelasnya lagi.
Wilopo mencontohkan kajian yang dilakukannya di Kulonprogo, Magelang dan Banjarnegara di mana pengelolaan dan pengontrolan drainase di atas dan bawah permukaan tanah berhasil sepenuhnya menghentikan terjadinya rayapan.
Namun, pengelolaan dan pengontrolan ini, tambahnya, memakan waktu karena seringkali ditemukan tantangan-tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya, seperti ditemukannya sumber mata air baru di dalam tanah, hingga diperoleh kondisi yang stabil.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengatakan telah merelokasi rumah warga yang terdampak langsung, maupun yang terancam fenomena pergerakan tanah di Bandung Barat ini. Ketua BNPB Letjen TNI Suharyanto pada awal Maret lalu mengatakan kepada VOA bahwa mengingat daerah itu tidak lagi dapat digunakan untuk permukiman warga, maka ada beberapa opsi yang akan diambil.









