“Kami memang sengaja menjalin komunikasi dengan beliau karena kami meyakini bahwa BPJS itu adalah sahabat ya. Sahabat bukan hanya untuk pasien, tapi juga sahabat para dokter-dokter,” kata Eighty di hadapan awak media.
Eighty tidak menampik kekhawatiran pihak kampus jika para lulusan baru ini gagap regulasi saat bertugas di lapangan. Ilmu klinis yang tinggi harus dibarengi dengan pemahaman birokrasi pembiayaan yang benar.
“Kami ingin membuat para dokter spesialis yang nanti bekerja melayani masyarakat itu mengenal BPJS dengan segala aturannya. Jangan sampai ketika bekerja di lapangan, mereka sudah punya ilmunya, kemampuan klinis, dan keterampilan teknis, tapi tidak memahami aturan terkait jaminan kesehatan,” urainya.
Ia mengonfirmasi bahwa ketidakpahaman regulasi JKN selama ini sering memicu masalah administratif antara pihak rumah sakit dan BPJS Kesehatan, yang berujung pada penolakan klaim.
“Khawatirnya seperti yang disampaikan Pak Direktur, sudah dikerjakan, ternyata tidak sesuai aturan. Mungkin teman-teman media sudah banyak mendengar bagaimana rumah sakit mengembalikan (pasien/klaim) karena yang dilakukan belum sesuai dengan aturan yang ditetapkan jaminan kesehatan,” bebernya.
Mengakhiri sesi doorstop, Eighty berharap pembekalan kilat ini menjadi modal kuat bagi 96 dokter spesialis baru UNAIR agar dapat bertugas secara aman, akuntabel, dan mengutamakan keselamatan pasien di tempat kerja masing-masing.
“Harapan kami, calon spesialis ini besok dilantik lulus bukan hanya dibekali kemampuan akademik dan keterampilan, tapi juga pemahaman tentang aturan-aturan tentang jaminan kesehatan,” tutupnya. (*)








