“Sebetulnya ini hanya masalah miskomunikasi. Bahwa semangat kampus ini didirikankan merupakan semangat egaliter, toleransi, demokrasi, seperti Pak Tandyo dulu. Jadi, ini hanya persoalan bagaimana komunikasi, dan bagaimana kita memberi ruang apresiasi pada anak-anak untuk tetap bisa menyuarakan suara kritis. Menurut saya sih, justru mereka harus dibimbing, jangan dibungkam, tapi dibimbing,” jelas Pinky Saptandari.
Pasca meluasnya foto karangan bunga bernada satire itu, beberapa pengurus BEM FISIP UNAIR mendapat serangan digital dan pesan-pesan bernada ancaman. Tetapi Tuffahati mengatakan mahasiswa tidak akan pernah takut terhadap ancaman dan intimidasi; bahkan siap menempuh jalur hukum bila serangan terus dilancarkan oleh pihak yang ingin membungkam mahasiswa.
“Narasi yang dibawakan itu kurang lebihnya sama semua, yaitu mengglorifikasi program-program Jokowi, kemudian mengancam, kemudian mendoakan yang tidak baiklah, seperti itu,” imbuh Tuffahati Ullayyah Bachtiar.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Satryo Soemantri Brodjonegoro kepada kantor berita ANTARA mengatakan semua pihak sedianya menghormati otonomi perguruan tinggi, termasuk dalam hal keleluasaan dan kebebasan akademik. Namun ia mengingatkan “kebebasan berpendapat sebagai bagian dari kebebasan akademik juga harus dibarengi akuntabilitas dan tanggung jawab perguruan tinggi kepada publik.” [Red]#VOA









