
BPS: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2024 Capai 5,03 Persen

Amalia menjelaskan salah satu faktor utama penyebab ekonomi Indonesia yang melambat pada tahun 2024 adalah ekspor yang melemah.
“Jadi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2024 ini melambat , bahwa pertumbuhan dari konsumsi rumah tangga dan PMTB lebih baik dari tahun 2023. Tapi kalau dilihat dari grafik source of growth, satu komponen yang menahan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi adalah dari net ekspor, karena net ekspor memberikan sumbangan walaupun tetap positif tetapi karena positifnya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2023, maka sumbangan terhadap pertumbuhannya terlihat negatif 0,21 persen. Jadi ini salah satu faktor yang agak menahan dari pertumbuhan yang lebih tinggi,” jelasnya.
Ekonom dari Bank Permata Josua Pardede mengatakan, peningkatan impor menjadi biang kerok perlambatan ekonomi tanah air pada tahun 2024. Peningkatan impor yang sebagian besar terdiri dari barang modal dan bahan baku itu sejalan dengan ekspansi PMTB.
“Semua komponen pengeluaran mencatat pertumbuhan, dengan konsumsi rumah tangga mendapatkan daya tarik. Namun, pertumbuhan tersebut masih berada di bawah level sebelum pandemi, menggarisbawahi kerentanan permintaan domestik dan pemulihannya yang belum cukup signifikan,” ungkap Josua.
Meski begitu, Josua memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tanah air relatif akan tetap kuat pada 2025 dan masih akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan peningkatan aktivitas investasi. Apalagi, katanya, Hal ini juga didukung dengan langkah Bank Indonesia yang telah menyesuaikan kebijakan moneternya untuk fokus tidak hanya pada stabilitas namun juga mendorong pertumbuhan.
“Kami mengantisipasi peningkatan konsumsi rumah tangga, didukung oleh inflasi yang terkendali, penurunan BI-rate, dan stimulus ekonomi pemerintah, termasuk pembatalan kenaikan tarif PPN untuk sebagian besar barang dan jasa. Secara bersamaan, pelonggaran suku bunga, kebijakan yang diharapkan akan mendorong pertumbuhan investasi pada tahun 2025. Biaya pinjaman yang lebih rendah dan normalisasi aktivitas investasi setelah berakhirnya pemilu 2024 akan menjadi salah satu pendorong utama investasi,” jelasnya.
Namun, kata Josua, pemerintah perlu mewaspadai kinerja ekspor yang akan menemui banyak tantangan karena perekonomian mitra strategis Indonesia, yaitu China yang masih melambat dan kebijakan proteksionisme Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump yang dapat menyebabkan perang dagang 2.0.








