Bagaimana Pasar Merespons Hasil Hitung Cepat Pilpres?

  • Whatsapp
Aktivitas sebuah TPS di Surakarta, Jawa Tengah, 14 Februari 2024. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

“Bahkan kalau saya lihat beberapa proyeksi dari lembaga internasional atau nasional, itu akan lebih rendah dari angka 5 persen. Kalau saya tebakannya di angka 4,9 sampai 5 persen. Jadi memang tidak akan sampai ke titik di mana 7 persen seperti yang janjikan oleh semua paslon,” jelasnya.

Kebijakan yang digadang-gadang oleh paslon 02 dengan pembagian makan siang gratisnya juga dinilai Nailul belum bisa berdampak signifikan terhadap peningkatan atau percepatan pertumbuhan ekonomi dalam lima tahun ke depan.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Ia pun menyoroti kabar yang beredar bahwa paslon 02 tersebut akan memangkas subsidi BBM demi mewujudkan program makan siang gratis. Hal ini dikarenakan selama ini subsidi BBM tersebut dinilai kurang tepat sasaran.

Nailul mengatakan bahwa kebijakan tersebut kurang tepat. Pasalnya, multiplier effect subsidi BBM ini cukup besar, seperti salah satunya kepada sektor transportasi untuk mengangkut bahan-bahan makanan pokok ke seluruh penjuru Tanah Air. Menurutnya apabila kebijakan ini dilakukan, maka pemerintah ke depan harus bersiap dengan inflasi yang melonjak, sehingga bisa menekan daya beli masyarakat.

“Terakhir di kenaikan Pertalite itu di tahun 2022, yang menyebabkan inflasi 5,75 persen. Itu pun harus dibantu Bank Indonesia dengan menaikkan suku bunga acuannya. Akhirnya pergerakan kredit itu cukup melambat. Ketika itu direncanakan untuk naik, yang pasti pemerintah akan menghadapi inflasi yang cukup tinggi,” katanya.

Prabowo-Gibran, katanya, juga perlu menjabarkan bagaimana mekanisme makan siang gratis yang menjadi program unggulan paslon ini. Pasalnya, sama seperti subsidi BBM yang dikatakan tidak tepat sasaran, program makan siang gratis pun cukup tinggi kemungkinan untuk tidak tepat sasaran.