“Jadi di tengah ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, ketika Pilpres Indonesia punya pemenang, itu pasti diapresiasi, karena satu risiko berkurang di tengah global risk yang relatif tinggi. Itu yang kita lihat di pasar,” tuturnya.
Optimisme ini, katanya, juga terlihat dari banyaknya investor yang cenderung menempatkan modal mereka di tanah air, sehingga terjadi aliran modal asing atau capital inflow yang masuk.
“Tapi biasanya optimisme itu jangka pendek. Artinya ke depan orang pasti menunggu apa realisasi program dan pergerakannya, tapi minimal bahwa risk-nya berkurang. Kita juga lihat bahwa di global itu kan terjadi pergeseran, tadinya Indonesia masuk satu dari lima negara yang sangat berisiko terjadi capital outflow. Tetapi seiring dengan perubahan struktural yang dilakukan pemerintah dan lain-lain, kita melihat bahwa Indonesia sudah dianggap keluar dari sana,” tambahnya.
“Biasanya bagi investor itu yang mereka suka. Oh dia sudah pasti nih, berarti nanti ke depannya sektor-sektor mana yang bisa naik. Makanya kemarin beberapa sektor infrastruktur dan konstruksi hijau banget. Lalu dari sisi Pak Prabowo sendiri kan, di belakang kan juga banyak lah yang dia pemain-pemain saham kelas kakap, terutama Boy Thohir,” ungkap Nailul.
Lalu bagaimana dengan perekonomian tanah air di tangan kepemimpinan Prabowo-Gibran dalam lima tahun ke depan?
Nailul memprediksi bahwa pertumbuhan perekonomian Indonesia tidak akan jauh dari level 5 persen. Pasalnya tagline dari paslon 02 ini adalah mengenai keberlanjutan daripada pemerintahan dari Presiden Jokowi. Menurutnya, ketika tidak ada gebrakan yang signifikan dalam kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintah baru tersebut, maka pertumbuhan ekonominya akan cenderung stagnan di level 5 persen.









