Pak Undang tidak menyangka bahwa apa yang pernah ditebarnya sebagai dosen akan berpengaruh jauh setelah masa pensiunnya.
“Saya baru saja retire (pensiun). Jadi mungkin anak-anak menerima saya, mungkin merasakan telah mendapat sedikit ilmu dari saya. Begitulah anak-anak. Makanya mereka bisa mendirikan grup-grup gamelan di tempat lain. Andrew sudah menjadi profesor di sana, terus Jay sudah bisa mendirikan grup dan sudah jadi profesor juga. Itu karena mereka belajar gamelan Sunda. Terus dia bisa menyebarkan ke universitas lain, tidak hanya ke Pittsburgh. Dulu kan (gamelan Sunda) hanya di California,” ujarnya.
Dia menceritakan pengalaman pertamanya dengan dunia gamelan di Amerika pada tahun 1974. Berkaca pada masa-masa awalnya, dia mengenang masa ketika di Amerika belum ada gamelan Sunda, atau mungkin hanya segelintir orang yang pernah mendengarnya, dibayangi oleh popularitas gamelan Jawa dan gamelan Bali. Pada waktu itu dia bersama empat musisi Sunda lainnya tiba di University of California, Berkeley, California, dengan sponsor Center for World Music, sementara rombongan gamelan Jawa dan gamelan Bali masing-masing diwakili oleh 15 dan 20 pengrawit.
“Tahun 1976 saya diundang lagi ke Santa Cruz untuk mengajar. Ya, Alhamdulillah itu banyak mahasiswanya. Banyak yang senang dengan musik Sunda. Setiap semester saja saya itu sampai mendapatkan 150 atau kadang-kadang 200 orang, sampai lima kelas saya itu mengajar,” akunya.
Melalui dedikasinya yang tidak kenal lelah dan bimbingan pada para mahasiswanya, Pak Undang meletakkan dasar bagi sebuah gerakan yang kemudian mendefinisikan kembali persepsi tentang musik Sunda di Amerika. Usahanya membuahkan hasil ketika ensambel gamelan bermunculan di seluruh Amerika, mulai dari University of California, Davis hingga Universitas Pittsburgh, dari UCSC hingga Bates College di Maine, yang masing-masing merupakan bukti warisan dari upayanya. Dengan bangga dia menceritakan prestasi para mahasiswanya, dan peran mereka sebagai profesor dan duta budaya Sunda di berbagai universitas dan komunitas Amerika.
Kepada VOA, Jay Michael Arms, PhD, dosen jurusan musik dan pengajar sekaligus pemimpin ensambel gamelan universitas menceritakan tentang konser untuk menghormati mantan dosennya, Undang Sumarna.
“Ketika saya mulai mengajar di Universitas Pittsburgh pada tahun 2019, Andrew Weintraub dan saya mulai mendiskusikan kemungkinan diadakannya konser yang didedikasikan untuk guru kami, Pak Undang Sumarna. Kami berdua awalnya belajar gamelan bersamanya di UC Santa Cruz, meskipun dalam dekade yang berbeda, dan kami merasa bahwa kami berhutang banyak atas kemurahan hatinya dalam membagikan musiknya sehingga ini adalah saat yang tepat untuk memberikan penghormatan kepada guru kami,” paparnya.
Jay menegaskan bahwa tidak berlebihan jika dikatakan kisah musik Sunda di Amerika berkelindan dengan kisah Pak Undang.
“Sejak tahun 1974 ia mengabdikan hidupnya untuk mengajar musik Sunda di Amerika Serikat,” ujar Jay, seraya menambahkan, “sejak itu banyak muridnya yang bepergian ke Indonesia, menjadi ahli etnomusikologi, komposer, penari, atau pecinta seni dan budaya Jawa Barat sebagai hasil dari pengalaman mereka belajar dari Pak Undang.”
Menurut Jay, program gamelan Sunda di Universitas Pittsburgh merupakan hasil warisan Pak Undang melalui Andrew yang mendirikannya pada tahun 1997, dan berlanjut pada dirinya.
“Saya merasakan pentingnya dedikasi Pak Undang pada seni, dan saya berusaha untuk meneruskan semua yang dia ajarkan kepada mahasiswa saya di Universitas Pittsburgh. Suatu kehormatan bagi saya bisa mengadakan konser untuk menghormati Pak Undang dan mengucapkan terima kasih bersama Andrew dan Ed,” pungkas Jay Michael Arms. [Red]#VOA









