Dia menegaskan bahwa pada akhirnya, semangat kolaboratif tidak kalah penting, sebuah bukti kekuatan musik untuk menjembatani kesenjangan dan menumbuhkan pemahaman.
Konser tahun ini, ujar Andrew, sangat spesial dengan kehadiran Ed dan Cia Garcia, sepasang suami istri yang menjadi artis tamu dari University of California, Santa Cruz. Ed Garcia adalah seorang drummer kenamaan yang juga piawai memainkan kendang gamelan Sunda, dan Cia Garcia, seorang penari Sunda.
Konser malam itu dimeriahkan dengan sajian duo kroncong string band oleh Nyak ‘Ubiet’ Ina Raseuki, Ph.D., seorang musisi kroncong dan dosen program pascasarjana di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) bersama Hannah Standiford, seorang mahasiswa program doktoral di Universitas Pittsburgh. Selain itu, musisi Herry Sutresna, Rizky Sasono dan Hirdzan Ruchimat tampil memukau dalam pentas electronic noise poetry (‘puisi kebisingan elektronik’).
Tribute for Undang Sumarna
Alunan musik gamelan dan pentas tari Sunda di Universitas Pittsburgh ini memiliki tujuan yang lebih dalam, yakni penghormatan kepada pionir musik gamelan Sunda di Amerika, dan pionir itu tidak lain adalah Undang Sumarna (Pak Undang), dosen gamelan Sunda di University of California, Santa Cruz (UCSC) yang baru saja memasuki masa pensiun. Oleh karena itu, konser itu diberi judul “Gamelan Music and Dance of Indonesia: A Tribute Concert for Undang Sumarna” (“Konser Musik Gamelan dan Tari Indonesia: Konser Penghormatan untuk Undang Sumarna”).
Andrew mengatakan bahwa Pak Undang memang selama ini mengajar di UCSC, dan ribuan mantan mahasiswanya telah menyebar di seluruh Amerika dan sebagian di antaranya mengajar atau membentuk grup gamelan Sunda, termasuk Andrew sendiri dan koleganya, Jay Michael Arms, PhD, yang keduanya kini berkarir di Universitas Pittsburgh. Selain menjadi dosen musik, Jay juga menjadi dosen ensambel gamelan Sunda di universitas itu. Andrew mengakui bahwa Pak Undang tidak hanya berhasil menularkan ilmu kepada dirinya dan Jay, tetapi juga menjadi pendorong dan pembimbing terbentuknya grup gamelan Sunda, University Gamelan Ensemble, di universitas itu.
“Waktu pertama kali saya ke Indonesia tahun 1984, saya bawa surat dari Pak Undang ke keluarga yang pada waktu itu tinggal di Jalan Babakan Torogong, yang dekat rumah sakit Immanuel di Bandung. Jadi mereka menerima saya sebagai keluarga, anak buah Pak Undang. Jadi saya tinggal di situ dan mereka membantu saya di Bandung selama 3 bulan sebagai undergraduate (mahasiswa tingkat sarjana) dan itu pengalaman yang luar biasa buat saya. Pak Jay juga dan banyak yang lain. Bukan tiga orang saja tapi ada banyak yang memperdalam studi gamelan, dasarnya program Pak Undang,” papar Andrew.
Warisan Undang Sumarna
Berbicara dengan VOA, Undang Sumarna mengenang perjalanan sejauh lebih dari 16 ribu kilometer yang melintasi benua, budaya, dan generasi—sebuah perjalanan yang didorong oleh kecintaan pada musik gamelan dan komitmen pada pelestarian dan penyebarannya.
Mengenai konser di Universitas Pittsburgh untuk menghormatinya, Pak Undang merasa sangat terhormat dan gembira bahwa upaya pengajarannya menunjukkan hasil nyata dan benih-benih kecintaan pada gamelan Sunda yang ditebarnya telah berbuah. Semula dia tidak menyadari konser yang direncanakan untuk menghormatinya, dan dia sendiri terpaksa tidak bisa menghadirinya. Namun, dia mempercayakan mantan mahasiswanya, yang keduanya mengajar di UCSC, untuk mewakilinya.
“Semula saya nggak tahu kalau anak-anak itu mengadakan konser untuk saya. Waktu itu anak-anak datang ke rumah, terus nanyain (apa saya bisa datang). Saya bilang nggak bisa, karena terlalu jauh (dan) saya baru pulang dari rumah sakit. Makanya saya menyuruh dua anak (Cia Garcia dan Ed Garcia) yang menari dan yang main kendangnya itu. Mereka anak-anak dari Santa Cruz. Mereka mahasiswa saya. Saya bilang, kamu ke sana, ke Pittsburgh. Tolong itu Andrew dan Jay untuk pertunjukan. Kebetulan mereka itu suami-istri,” ungkapnya.










