Analis: Pengakuan Palestina Bersejarah, Tapi Hanya Simbolis

  • Whatsapp
Seorang pengunjuk rasa mengibarkan bendera nasional Palestina dalam aksi pro Palestina di kampus UCLA di Los Angeles, AS (foto: ilustrasi).

“Israel menentang keras pengakuan ini. Ini jelas juga buntut dari dikeluarkannya surat perintah penangkapan Netanyahu dan (Menhan) Gallant oleh Pengadilan Kejahatan Internasional. Jadi, menurut saya, ini adalah minggu di mana warga dan tentu saja para pemimpin Israel merasa semakin terisolasi, mungkin dikeroyok secara internasional, dan benar-benar merasa dipojokkan,” tukasnya.

Penasihat keamanan nasional Gedung Putih Jake Sullivan berpendapat pengakuan tersebut tidak akan lebih mendekatkan pada solusi dua negara.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Berbicara kepada wartawan Rabu lalu di Gedung Putih, ia mengatakan, “Kami percaya satu-satunya cara untuk mencapai solusi dua negara yang bermanfaat bagi Israel dan Palestina adalah melalui negosiasi langsung antara kedua pihak. Itulah yang sedang kami dorong, dan itulah strategi regional yang lebih besar yang melibatkan negara-negara Arab untuk mencoba menghasilkan momentum ke arah itu.”

Sullivan menambahkan bahwa “negara-negara Arab, negara-negara Eropa, bahkan dunia, percaya pada solusi dua negara. Jadi ini bukan masalah bilateral antara AS dan Israel.”

Israel melancarkan perang di Gaza setelah serangan Hamas pada 7 Oktober di mana militan menyerbu Israel selatan, menewaskan sekitar 1.200 orang, sebagian besar warga sipil dan menculik sekitar 250 orang.

Kementerian Kesehatan Gaza mengatakan serangan balasan Israel melalui darat dan udara telah menewaskan lebih dari 35.000 warga Palestina, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Sekitar 80% dari 2,3 juta penduduk Palestina terpaksa meninggalkan rumah mereka dan menjadi pengungsi di wilayah tersebut, seringkali berkali-kali. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *