
Aktivis: Carbon Capture Storage Justru Perparah Krisis Iklim

Jika ke depannya pemerintah tetap memaksakan menggunakan teknologi CCS/CCUS, kata Bhima, konsumen diperkirakan akan menanggung beban tarif listrik yang lebih mahal. Ini dikarenakan beban subsidi dan kompensasi energi dari pemerintah yang akan semakin menyempit, karena dialihkan untuk biaya investasi dan operasional dari penerapan teknologi CCS/CCUS.
Bhima juga mengatakan, hasil penelitian menunjukkan penerapan CCS/CCUS merupakan taktik penundaan untuk melanggengkan penggunaan energi fosil dalam berbagai industri yang tidak mau melakukan dekarbonisasi secara benar.
“Jadi temuan pada 2018 bahwa di dalam jangka menengah dan jangka panjang, kehadiran CCS akan meningkatkan konsumsi dari energi fosil, itu bahkan di tahun 2100 bisa sampai ada tambahan 65 persen dari reserve yang digunakan untuk terus menerus melakukan eksploitasi,” katanya.
Dengan begitu, kata Bhima, dunia tidak akan selesai dari penggunaan energi kotor karena akan selalu di cari celah atau jalan tengah dengan menggunakan teknologi CCS dan CCUS. Bhima juga mempertanyakan mengapa pemerintah ingin menerapkan teknologi CCS/CCUS, mengingat teknologi serupa yang diterapkan di negara lain sudah terbukti menimbulkan bencana, seperti yang terjadi di satu desa di Mississippi, Amerika Serikat pada 2020 akibat kebocoran pipa gas CO2. Peristiwa ini menyebabkan 300 orang harus dievakuasi dan 45 di antaranya harus dirawat di rumah sakit. Setelah ditelusuri, kasus ini berkaitan dengan pemanfaatan teknologi CCS/CCUS untuk kebutuhan power plant dan industri.
“Ini dampaknya sudah jelas, kebocoran pipa CO2. Jadi kalau ada yang bilang CCS akan aman, CCS tidak akan merusak lingkungan, tidak akan mencemari udara karena karbonnya bisa disimpan, karbonnya bisa ditransfer dan sebagainya , fakta tidak menunjukkan itu,” jelasnya.
“Sudah jadi beban berat dengan kondisi fosil sekarang ditambah dengan CCS, tentunya ini akan menjadi beban berat bagi masyarakat rentan, perempuan dan juga pekerja yang bekerja di CCS ataupun yang bekerja dalam sektor yang terkait dengan PLTU dan industri pertambangan. Dan pemerintah harus bisa menjawab, apakah risiko ini sudah dimasukkan di dalam kalkulasi untung rugi sebelum memberikan sebuah kerangka hukum regulasi; dan apakah sudah dihitung kalau terjadi kebocoran sampai kemudian menimbulkan korban masyarakat sekitar yang dialiri pipa dari CCS/CCUS?,” pungkasnya. [Red]VOA









