Tren kekerasan kolektif meningkat di Indonesia

  • Whatsapp
Polisi menggiring terduga pelaku perkelahian antar gang yang merenggut sejumlah korban jiwa di sebuah klub malam di Sorong, Provinsi Papua Barat, 29 Januari 2022
Sebagian besar insiden berskala kecil, namun tidak dapat diabaikan.
Opini oleh Alif Satria
sharethis sharing button
( DN ) – Situasi di Indonesia saat ini jauh lebih damai dibandingkan dengan awal 2000-an. Kekerasan separatis skala besar atau konflik sektarian seperti yang terjadi di Aceh dan Maluku tahun 1999 hingga 2003 tidak terjadi lagi.

Serangan teroris masih terjadi secara berkala, namun tingkat fatalitasnya telah menurun secara signifikan dibandingkan dengan yang terjadi pada awal tahun 2000-an. Serangan Bom Bali 2002 mengakibatkan lebih dari 500 orang menjadi korban – termasuk 202 orang diantaranya meninggal; sementara 20 orang luka-luka dalam serangan Bom Makassar tahun 2021.

Beberapa studi dari tahun 2015 menunjukkan bahwa setelah tahun 2003, sebagian besar konflik di Indonesia adalah tindakan kekerasan kolektif berskala kecil – kekerasan yang dilakukan oleh atau terhadap sekelompok orang, yang berkisar dari pengeroyokan kriminal oleh penduduk desa, hingga demonstrasi ricuh terkait sengketa tanah.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sebuah database baru yang disusun oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS) di Jakarta menunjukkan gambaran holistik mengenai tren kekerasan kolektif terkini. Database Collective Violence Early Warning (CVEW) mendata semua insiden kekerasan kolektif yang diberitakan pada tahun 2021, termasuk kekerasan antarkelompok, seperti konflik antar desa; kekerasan oleh kelompok terhadap individu, seperti pengeroyokan massa; dan kekerasan oleh aparat negara terhadap sebuah kelompok, seperti kekerasan oleh penegak hukum.

Tren

Kekerasan kolektif di Indonesia bukanlah fenomena langka. Di tahun 2021, Indonesia mengalami total 1.221 insiden kekerasan kolektif – atau rata-rata tiga hingga empat insiden setiap hari.

Lebih memprihatinkan lagi, data menunjukkan angka itu terus meningkat. Selama kuartal pertama 2021, terjadi total 206 insiden kekerasan kolektif di Indonesia – angka ini naik hampir 80 persen menjadi 370 di kuartal keempat.

Namun, walaupun insiden kekerasan kolektif biasa terjadi, insiden tersebut jarang yang mematikan atau berskala besar. Sepanjang tahun 2021, hanya satu dari enam insiden yang mengakibatkan kematian. Jika dihitung korban meninggal dan cedera, kekerasan kolektif hanya menghasilkan tingkat korban 1,7 per insiden.

Memang, satu dari tiga insiden kekerasan kolektif pada tahun 2021 adalah tindakan main hakim sendiri berskala kecil, seperti massa yang menyerang pelaku kriminal atau anggota geng yang mencoba membalas dendam temannya.

Walau kekerasan yang terjadi berskala kecil, bukan berarti hal tersebut dapat diabaikan. Sepanjang tahun 2021, kekerasan kolektif menewaskan lebih dari 294 orang dan melukai lebih dari 1.111 orang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *