WHO Kejar Target Vaksinasi Polio di Gaza

  • Whatsapp
Anak-anak Palestina menunggu vaksinasi polio di pusat layanan kesehatan Perserikatan Bangsa-Bangsa di Deir Al-Balah di Jalur Gaza bagian tengah, 1 September 2024. (Ramadan Abed/REUTERS)

Ketika ditanya, apakah mungkin untuk menangani persoalan kesehatan lain yang juga sangat mengkhawatirkan, seperti kekurangan gizi di anak-anak, ketika tim vaksinasi bekerja, Peeperkorn mengatakan bahwa mereka tidak memiliki kapasitas cadangan untuk melakukannya.

“Ini adalah progam yang sangat intens. Anda menginginkan ini dilakukan secepat mungkin, selama sesedikit mungkin hari yang dimungkinkan. Dengan semua kompleksitas di Gaza saat ini, kami memutuskan bahwa kami tidak dapat menambahkan apapun ke program ini. Program ini harus benar-benar dimaksimalkan jika kita ingin mencapai cakupan 90 persen,” tambah dia.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Jika kami melihat bahwa aktivitas tambahan bisa dimungkinkan di putaran kedua, empat pekan dari sekarang, kami pasti akan melakukannya,” papar Peeperkorn lagi.

Program vaksinasi polio diselenggarakan di tengah penghancuran yang massif pada infrastruktur layanan kesehatan di Gaza, termasuk sistem air dan sanitasi, dan setelah para pejabat kesehatan mendeteksi kasus polio pertama di Gaza dalam 25 tahun, pada bayi berusia 10 bulan di kamp pengungsi.

Virus ini dapat menyebabkan kelumpuhan dan bahkan kematian pada anak-anak.

Sementara badan-badan kemanusiaan PBB menyambut baik jeda kemanusiaan di kawasan tertentu, untuk memungkinkan program vaksinasi polio skala besar, mereka menekankan pentingnya pembebasan segera seluruh sandera yang tersisa dan sebuah gencatan senjata di Jalur Gaza.

James Elder, juru bicara Dana Anak-Anak PBB, Unicef, mengatakan, “Begitu anak-anak ini divaksinasi, mereka akan kembali ke wilayah yang dalam beberapa pekan ke depan, dalam bayangan kita, akan dibom kembali. Tidak mungkin hal semacam itu harus diterima sebagai sesuatu yang normal.”

“Dan saya pikir bahwa setiap orang kini menganggap bahwa pembicaraan tentang gencatan senjata adalah pembicaraan yang bagi kita sekadar terus berpikir bahwa masih ada harapan di situ. Setelah 10 bulan, kita mungkin sedikit naif. Jadi, sesuatu harus diberikan, dan sekali lagi, harus dilakukan oleh para pemimpin yang mewakili rakyat mereka,” ujarnya lagi. [Red]#VOA