Petugas medis WHO menjelaskan, bahwa tim vaksinasi akan berpindah ke kawasan selatan yang lebih luas pada Kamis, untuk program selama tiga hari selanjutnya, atau mungkin empat hari, sebelum mereka kembali berpindah ke kawasan utara.
“Empat pekan ke depan, proses serupa akan diulang untuk putara kedua vaksinasi,” tambah Peeperkorn.
Mencapai bagian utara dari Jalur Gaza masih menjadi sebuah perhatian, karena WHO telah mencoba untuk menjalankan misi mereka ke bagian utara selama dua pekan terakhir, untuk menyediakan pasokan medis penting bagi rumah sakit.
“Dari delapan atau Sembilan misi yang kami rencanakan, hanya tiga atau empat yang terlaksana,” tambahnya.
Tim Medis Darurat (EMT) telah dikirimkan ke Rumah Sakit Indonesia dan seorang dokter anak ke Rumah Sakit Kamal Adwan, selain obat-obatan dan perlengkapan lainnya.
Perjalanan kembali ke pangkalan mereka membutuhkan waktu tunggu tujuh jam untuk proses otorisasi untuk melanjutkan perjalanan ke titik kumpul, dengan tambahan 2,5 jam untuk pengecekan di pos pemeriksaan.
Hampir 11 bulan perang berlangsung, proses penghentian konflik masih belum efektif, kata Peeperkorn.
Menurut badan kesehatan PBB ini, setidaknya 90 persen anak-anak Palestina harus divaksinasi agar program ini efektif dan untuk mencegah penyebaran polio di Gaza dan secara global.
Jalur Gaza memiliki tingkat cakupan vaksinasi yang tinggi di seluruh populasi, sebelum konflik dimulai pada Oktober 2023.
Karena dampak dari perang, cakupan imunisasi rutin anjlok dari 99 persen pada 2022 menjadi kurang dari 90 persen pada kuartal pertama 2024, meningkatkan risiko penyakit yang sebenarnya bisa dicegah melalui vaksinasi ke anak-anak, termasuk polio.








