Hingga Jumat pagi, rumah sakit tersebut menampung sekitar 350 orang, termasuk 75 pasien yang terluka dan sakit, serta 180 staf medis, imbuh Abu Safiyeh.
Sejumlah saksi mata di area tersebut mengatakan kepada AFP bahwa rumah sakit itu telah dievakuasi, dan ratusan orang yang tinggal di sekitarnya “terpaksa mencari perlindungan di sekolah Al-Fakhura dan Rumah Sakit Indonesia” di Jabalia.
AFP tidak dapat menghubungi Abu Safiyeh dan pejabat rumah sakit lainnya atau memverifikasi secara langsung berapa banyak orang yang berhasil dievakuasi dari fasilitas tersebut.
Militer Israel kerap menyebut Hamas menggunakan rumah sakit sebagai pusat komando dan kendali untuk menyerang pasukannya selama perang, meskipun Hamas membantah tuduhan tersebut.
Pada Kamis, Abu Safiyeh mengatakan bahwa lima anggota staf rumah sakit tewas dalam serangan Israel.
Militer, ketika dihubungi oleh AFP, tidak mengomentari serangan tersebut.
Dalam beberapa hari terakhir, Abu Safiyeh berulang kali mengungkapkan kekhawatirannya tentang situasi rumah sakit tersebut, menuduh pasukan Israel sengaja menargetkan fasilitas itu.
“Dunia harus memahami bahwa rumah sakit kami menjadi sasaran dengan tujuan untuk membunuh dan memindahkan paksa orang-orang di dalamnya,” katanya dalam sebuah pernyataan pada Senin.
WHO menggambarkan kondisi di Rumah Sakit Kamal Adwan sebagai sesuatu yang “mengerikan.” Organisasi PBB itu menyatakan bahwa rumah sakit tersebut hanya dapat beroperasi pada tingkat “minimal”. [Red]#VOA









