Serangan pada Kamis terjadi saat para negosiator gencatan senjata berkumpul di Doha untuk pembicaraan terakhir yang bertujuan menghentikan pertempuran di Gaza dan mencegah ancaman perang regional yang lebih luas, yang dapat melibatkan Iran dan sekutunya.
Para politisi senior Israel, termasuk Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, mengecam keras serangan tersebut. Mereka menjanjikan penyelidikan. Menteri Pertahanan Yoav Gallant, dan bahkan Bezalel Smotrich, kepala partai pro-pemukim garis keras, yang sebelumnya cenderung mengabaikan insiden semacam itu, juga ikut bersuara keras.
Para pemimpin dari dua asosiasi pemukim Tepi Barat, Dewan Samaria dan Dewan Kedumim, juga mengecam serangan tersebut. Seperti Smotrich, mereka mengklaim tindakan itu dilakukan oleh “para penjahat” yang mereka duga berasal dari kelompok-kelompok luar wilayah tersebut.
“Mereka yang datang dengan niat menciptakan kerusuhan dan kekerasan—jangan datang ke Samaria, kalian tidak diinginkan di sini,” ujar mereka, merujuk pada nama Alkitab yang digunakan oleh warga Israel untuk menyebut sebagian wilayah Tepi Barat.
Tanggapan yang Lama
Jit, yang terletak di antara kota-kota titik api Nablus dan Qalqilyah, di Tepi Barat utara, belum pernah melihat sasaran serangan pemukim pada masa lalu, kata penduduk. Namun, seriring dengan tumbuh dan berkembangnya pemukim di wilayah itu, ketegangan tak terelakkan.
Warga Palestina di Tepi Barat sering mengeluhkan kekerasan yang semakin meningkat dan intensitas serangan dari pemukim di daerah-daerah seperti Huwara atau Burqa. Kedua wilayah tersebut sering menjadi sasaran serangan, sehingga sering mengejutkan penduduknya.
“Kami sudah pernah mengalami serangan sebelumnya, tetapi tidak dengan tingkat kekerasan dan terorganisasi seperti ini. Apa yang terjadi bukanlah tindakan dari empat atau lima pemukim yang sekadar ingin menyerang. Ini adalah sesuatu yang terorganisasi; mereka merencanakannya selama beberapa hari, dilengkapi dengan senjata, gas air mata, semprotan merica, pisau, dan berbagai jenis senjata lainnya,” tutur Hassan Orman, seorang warga yang menyaksikan serangan tersebut.









