Perundingan yang dimulai pada hari Minggu (3/3) di Kairo, Mesir, itu disebut-sebut sebagai langkah terakhir untuk mencapai gencatan senjata pertama dalam perang yang telah berlangsung selama lima bulan itu, yang bertepatan dengan waktu menjelang bulan suci Ramadan yang akan dimulai pekan depan.
Pejabar senior Hamas, Osama Hamdan, mengatakan, “Fleksibilitas yang kami tunjukkan dalam perundingan ini adalah karena kami prihatin atas tumpahnya darah rakyat kami, dan demi mengakhiri penderitaan dan pengorbanan mereka. Di sisi lain, kami juga siap membela rakyat kami sepenuhnya. Setiap ancaman pembantaian baru di Rafah menunjukkan kembali sifat musuh (kami) dan para tentara kriminalnya,” ujarnya.
Israel menolak memberi komentar secara terbuka mengenai perundingan di Kairo, termasuk keputusannya untuk tidak mengirim delegasi.
Washington, yang merupakan sekutu terdekat Israel sekaligus sponsor perundingan itu, mengatakan bahwa kesepakatan sudah hampir tercapai, karena Israel telah menyetujuinya dan tinggal menunggu keputusan Hamas.
Usulan yang sedang dirundingkan berupa gencatan senjata selama sekitar 40 hari, di mana Hamas akan membebaskan sekitar 40 dari lebih dari 100 sandera yang masih mereka tahan, dengan timbal balik berupa pembebasan 400 tahanan di penjara-penjara Israel.
Namun, perundingan itu tampaknya tidak langsung menjawab tuntutan Hamas soal solusi yang jelas untuk mengakhiri perang secara permanen. Perundingan itu juga tidak menjawab nasib lebih dari separuh sandera yang tersisa, di mana warga laki-laki Israel tidak termasuk dalam kesepakatan tersebut dan juga kesepakatan-kesepakatan sebelumnya yang mengatur soal pembebasan perempuan, anak-anak, orang tua dan sandera yang terluka.
Israel menegaskan tidak akan mengakhiri perang sampai Hamas diberantas. Sebaliknya, Hamas mengatakan tidak akan membebaskan semua sandera tanpa adanya kesepakatan untuk mengakhiri perang. [Red]#VOA








