“Dan mengingat betapa besarnya penderitaan di Gaza, harus ada gencatan senjata segera untuk setidaknya enam minggu ke depan, yang saat ini tengah dirundingkan,” tambah Harris.
Mereka juga menuding pasukan Israel sebagai penyebab kematian para warga, karena para tentara menembaki warga Palestina yang menghampiri truk-truk pengirim bantuan.
Israel membantah jumlah korban yang disebutkan pihak kementrian kesehatan di Gaza dan berdalih bahwa sebagian besar korban tewas karena terinjak atau tertabrak.
Komentar Harris mencerminkan rasa frustrasi dan bahkan keputusasaan pemerintahan AS terhadap perang tersebut, di mana Presiden AS Joe Biden menghadapi protes dari para pemilih berhaluan kiri yang menentang perang di Gaza, di tengah-tengah usahanya untuk terpilih kembali menjadi presiden AS pada pemilu tahun ini.
Harris, bersama Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Penasihat Keamanan Nasional AS Jake Sullivan, dijadwalkan bertemu dengan anggota kabinet perang Israel, Benny Gantz, pada Senin ini (4/3) di Gedung Putih. Harris akan menyampaikan pesan yang serupa dengan pernyataan sebelumnya soal Gaza.
Sebagai anggota kabinet perang di bawah pimpinan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang berhaluan kanan, Gantz juga merupakan saingan politik berhaluan sentris dan pengkritik keras Netanyahu sebelum terjadinya perang di Gaza. Netanyahu sendiri belum pernah diundang ke Washington sejak kembali menjabat setahun yang lalu.
Sementara itu, para mediator dari pihak Hamas dan Mesir pada Senin (4/3) menyampaikan bahwa mereka akan terus melanjutkan perundingan untuk menyepakati gencatan senjata di Gaza, meskipun Israel memutuskan untuk tidak mengirim delegasinya.








