Usai Kematian Sinwar, Hamas Diduga akan Tunjuk Pemimpin Baru dari Luar Gaza

  • Whatsapp
Dalam foto arsip tampak Kepala Hamas Gaza Yahya Sinwar (kiri), Ketua Umum Hamas Ismail Haniyeh (tengah) dan pemimpin senior Hamas, Khalil al-Hayaa di Rafah diJalur Gaza, 19 September 2017. Hamas diperkirakan akan menunjuk pengganti Sinwar, dari luar Gaza. (Foto: Reuters)

Namun, perang yang sedang berlangsung, dan kesulitan dalam komunikasi mungkin membatasi komunikasi rutin Hayya dengan orang-orang di lapangan, membuat sayap bersenjata Brigade Qassam memegang kendali saat ini, kata para pakar.

Seorang sumber Hamas mengatakan Hayya diharapkan tidak akan menemui masalah dalam menjalankan perannya sebagai “pemimpin Gaza de facto.” Sumber tersebut mencatat bahwa Hayya memiliki hubungan baik dengan sayap militer, dan dekat dengan Sinwar dan Haniyeh.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Akram Attallah, seorang analis politik Palestina, berharap sayap bersenjata akan menghormati otoritas Hayya, meskipun dari jauh. Ia juga mengharapkan Mohammad Sinwar akan muncul sebagai tokoh yang lebih signifikan dalam sayap bersenjata dan di Hamas secara keseluruhan.

Seorang komandan veteran Brigade Qassam, Mohammad Sinwar, jarang muncul di depan umum, ia telah lama masuk dalam daftar orang paling dicari Israel. Ia berhasil selamat dari beberapa upaya pembunuhan terhadapnya, kata sumber Hamas.

Pasukan bersenjata Hamas menewaskan 1.200 orang, dan menculik 250 orang lainnya pada 7 Oktober, menurut penghitungan Israel. Hal ini memicu serangan Israel yang, menurut otoritas Palestina, merenggut lebih dari 42.000 nyawa warga Palestina, menghancurkan Gaza, dan mengusir hampir seluruh penduduknya dari rumah mereka.

Pengangkatan Sinwar sebagai ketua pada Agustus dipandang sebagai simbol pembangkangan dan persatuan internal dalam tubuh Hamas.

Hubungan dekat Sinwar dengan Iran dianggap sebagai faktor yang mendukung pencalonannya. Selain itu, baik Darwish maupun Hayya juga dipandang dekat dengan Teheran, yang dukungannya akan sangat penting bagi Hamas untuk dapat bangkit setelah perang.

Sementara itu, peluang mantan pemimpin Hamas terkemuka, Khaled Meshaal, untuk menjadi pemimpin Hamas sangat kecil karena ia pernah berselisih dengan Teheran saat mendukung pemberontakan yang dipimpin oleh Muslim Sunni melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad pada 2011.

Attallah mengatakan bahwa hubungan Hayya dengan Iran memberikan keuntungan lebih besar baginya dibandingkan dengan Meshaal. Namun, jika Iran melunakkan sikapnya terhadap Meshaal, peluangnya untuk bersaing bisa terbuka, tambahnya. [Red]#VOA