Usai Kematian Sinwar, Hamas Diduga akan Tunjuk Pemimpin Baru dari Luar Gaza
Dewan Syura mewakili semua anggota Hamas di Jalur Gaza, Tepi Barat, penjara-penjara Israel, dan diaspora Palestina, yang berarti pemimpin baru harus memiliki wewenang untuk memasuki pembicaraan gencatan senjata bahkan jika ia tidak berada di Gaza, tempat orang-orang bersenjata Hamas masih menyandera puluhan warga Israel.
Selain Hayya, yang merupakan kepala negosiator Hamas, kandidat lain yang berpotensi menjadi pemimpin Hamas adalah Khaled Meshaal, pendahulu Haniyeh, dan Mohammad Darwish, seorang tokoh yang kurang dikenal yang mengepalai Dewan Syura, menurut sejumlah analis dan sumber dari Hamas.
Sumber itu mengatakan, sebelum membuat keputusan, Hamas perlu memberi tahu Qatar, dan ibu kota regional lainnya. Qatar sendiri selama ini berperan penting sebagai mediator gencatan senjata yang sejauh ini belum membuahkan hasil.
Pembagian Tugas
Ashraf Abouelhoul, seorang pakar urusan Palestina, memperkirakan bahwa tanggung jawab yang pernah dipegang Sinwar akan dibagi menjadi dua peran: satu untuk mengawasi urusan militer dan yang lainnya untuk menjalankan kantor politik, yang bertanggung jawab atas kontak internasional dan pengembangan kebijakan.
“Iran adalah sekutu terkuat Hamas, yang mendukung kelompok tersebut dengan uang dan senjata, dan restu mereka adalah kunci bagi siapa yang akan menjadi penerus Sinwar,” kata Abouelhoul, pemimpin redaksi surat kabar milik negara Al-Ahram di Mesir.
Ia berharap Hamas akan tetap berpegang pada tuntutan inti dalam perundingan gencatan senjata di masa mendatang, terutama agar pasukan Israel mundur dari Gaza, dan menghentikan perang. Namun, Hamas mungkin akan menunjukkan lebih banyak fleksibilitas dalam beberapa kondisi, seperti kesepakatan untuk menukar sandera Israel dengan warga Palestina yang dipenjara oleh Israel.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan pembunuhan Sinwar sebagai tonggak sejarah, tetapi memastikan perang belum berakhir, dengan mengatakan pertempuran akan terus berlanjut hingga para sandera dibebaskan.
Hamas didirikan pada 1987 sebagai cabang dari gerakan Ikhwanul Muslimin yang beraliran Islam Sunni. Keputusan dalam organisasi ini biasanya diambil melalui konsensus di berbagai lembaga yang ada dalam Hamas.
Dengan tewasnya Sinwar, kepemimpinan Hamas untuk Gaza untuk sementara diserahkan kepada wakilnya yang berdomisili di Qatar, Hayya.









