Urgensi Melawan Stigma Negatif “Down Syndrome” di Indonesia

  • Whatsapp
FILE - Masyarakat Indonesia masih butuh edukasi untuk lebih memahami individu dengan sindrom down. (Foto: Humas RSA UGM)
Lisa Octaviani Rogi. (Courtesy: pribadi)
Lisa Octaviani Rogi. (Courtesy: pribadi)

“Kami datang ke sekolah-sekolah membawa anak-anak kami, di situ anak-anak kami masuk ke kelas-kelas, mereka belajar bersama. Itu kami ingin memperkenalkan ada lho individu dengan down syndrome. Jadi untuk menumbuhkan atau raising awareness sejak dini. Jadi POTADS Go To School intinya inklusivitas ya.”

Dalam “POTADS Go To School,” ia memaparkan keberhasilan penyandang “down syndrome” yang menjadi barista di café kopi, menekuni usaha kebersihan rumah, hingga bekerja di perusahaan. Termasuk Defrey, putra Jeffrey Ong, yang kini tekun magang di sebuah perusahaan dan bertekad hidup mandiri serta berkontribusi pada masyarakat.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) terakhir pada tahun 2010-2018 mencatat usia ibu yang tua saat hamil, faktor genetik, kurangnya asupan folat dan paparan kimia atau zat asing merupakan risiko penyebab kelahiran bayi “down syndrome.”

Komnas Perempuan mencatat bahwa perempuan yang memiliki “down syndrome” merupakan kelompok yang sangat rentan mengalami stigma negatif, keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan, dan eksklusi sosial dalam pergaulan. [Red]#VOA