Selama ini mereka yang memiliki “down syndrome” digolongkan ke dalam orang dengan disabilitas mental atau intelektual, yang tak jarang masih mengalami diskriminasi di berbagai bidang.
Jeffrey Ong, orang tua seorang anak “down syndrome” mengatakan meskipun “intelligent quotient” (IQ) atau kemampuan untuk menalar, memecahkan masalah, memahami gagasan dan merencanakan sesuatu relatif rendah, tetapi mereka memiliki kemampuan interaksi yang besar.
Jeffrey, yang juga menjadi koordinator anak “down syndrome” yang berusia di atas 18 tahun di POTADS mengatakan, “Kalau secara sosial, sebetulnya kalau dibandingkan misalnya dengan penyandang autism gitu ya, penyandang down syndrome cenderung lebih sosial, lebih warm, lebih ramah, lebih mau membuka diri, lebih mau berkomunikasi. Nah ini sebetulnya secara sosial mereka sebetulnya lebih mampu berinteraksi.”
Ironisnya ada beberapa stigma yang menyulitkan perkembangan anak dengan “down syndrome,” antara lain stigma bahwa mereka tidak bisa hidup normal, tidak bisa sekolah atau belajar, memiliki keterlambatan perkembangan yang parah dan masalah kesehatan yang serius, dan tidak dapat berkontribusi pada masyarakat.
Kembali Jeffrey Ong, “Yang jadi tantangan memang intelektual dan memang cenderung stigma-stigma yang ada dalam masyarakat, bahwa mereka tidak punya potensi, mereka tidak bisa dikembangkan bahkan ada yang masih melihat down syndrome sebagai penyakit jadi tidak mau anak-anaknya dekat-dekat dengan penyandang down syndrome, masih ada yang seperti itu. Nah stigma-stigma itu yang sebagai komunitas sedang berusaha untuk kita lawan, bahwa tidak seperti itu sebetulnya, end the stereotype.”
Untuk itu POTADS, ujar Lisa Octaviani Rogi, berjuang memberikan penyuluhan kepada masyarakat, di pelosok daerah sekalipun.









