“Hal ini terutama terlihat dari perlambatan bruto PPh non migas, dan penurunan PPh Migas. Sementara itu, kinerja bruto PPN dan PPnBM yang positif sejalan dengan baiknya aktivitas ekonomi,” jelasnya.
Adapun pendapatan negara yang bersumber dari pajak mencapai Rp 393,91 triliun atau 19,81 persen dari target APBN 2024. Ia merinci PPh Non Migas tercatat mencapai Rp220, 42 triliun, PPN & PPnBM Rp155,79 triliun, PBB & pajak lainnya Rp3,17 triliun, dan PPh Migas Rp14,53 triliun. Sementara itu penerimaan negara dari sisi bea dan cukai mencapai Rp69 triliun.
Di sisi lain, belanja negara hingga akhir Maret 2024 mencapai Rp611,9 triliun atau setara 18,4 persen dari pagu APBN. Anggaran belanja tersebut melonjak cukup tinggi yakni 18,4 persen dari periode yang sama pada tahun lalu. Menurutnya peningkatan belanja negara disebabkan adanya belanja-belanja front loading seperti belanja untuk penyelenggaraan pemilu.
Meskipun surplusnya terus menurun, namun APBN masih mencatatkan surplus keseimbangan primer sebesar Rp122,1 triliun. Surplus keseimbangan primer adalah total pendapatan negara dikurangi pengeluaran negara, di luar pembayaran utang.
“Dengan situasi itu, keseimbangan primer kita masih surplus Rp122,1 triliun. Ini surplus namun kalau dibandingkan tahun lalu surplusnya sudah menurun, karena tahun lalu di Maret surplusnya di Rp228,3 triliun, berarti surplusnya menurun 46,5 persen,” terangnya.
Secara keseluruhan Mantan Managing Director World Bank ini mengungkapkan ketidakpastian global yang masih terjadi sampai detik ini tentu berdampak negatif pada perekonomian dan keuangan global. Dengan demikian, perekonomian nasional dan kinerja APBN pun cukup terdampak. Meski begitu, ia yakin pertumbuhan ekonomi tanah air masih relatif resilience.








