“Jalur darat kita pahami sekarang di Rafah ini kondisi tensinya tinggi sekali, Israel berkali-kali mengancam untuk menyerbu Rafah. Kondisi ini sangat eksplosif, tidak pasti. Kalau itu dipakai tidak ada jaminan juga barang itu bisa sampai ke sasaran dengan selamat. Sebenarnya ini jalur alternatif untuk menghadapi blokade Israel yang ada di mana-mana,” ungkap Hendraning.
Meskipun pengiriman bantuan via airdrop ini kerap memakan korban masyarakat sipil, Hendraning berharap militer Yordania dapat menjalankan tugasnya dengan baik karena secara teknis mereka cukup memahami situasi di lapangan.
Selain itu, pertimbangan Indonesia menitipkan bantuan payung udara orang dan barang ini kepada pihak Yordania adalah karena Indonesia sendiri tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel. Untuk bisa terbang memasuki wilayah Gaza, menurutnya, dibutuhkan izin dari pihak Israel.
“Yordania punya hubungan diplomatik dengan Israel, Indonesia tidak punya. Oleh karena itu, kalau kita terbang masuk ke wilayah ke Gaza semuanya harus mendapatkan clearance dari Israel. Ini yang kita hindari. Jadi tidak konsisten, karena selama ini kita tidak mengakui Israel kita mendukung perjuangan Palestina tiba-tiba kita harus meminta untuk bisa terbang di atasnya yang sebetulnya bisa kita lakukan dengan cara lainnya salah satunya dengan cara kerja sama dengan pemerintah Yordania,” jelasnya.
Terkait adanya resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB) yang mendesak dilakukannya gencatan senjata segera di Gaza pada Senin (25/3), Hendraning berharap hal ini bisa dijalankan dengan baik. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya, menurutnya, adalah sejauh mana resolusi ini efektif untuk menekan Israel.










