
Tiga Perempuan Bersaing Jadi Gubernur di Pilkada Jatim

Hasilnya menyebutkan gubernur petahana, Khofifah, masih cukup dominan dalam beberapa survei. Meski demikian, kata Burhanuddin, Khofifah harus berhati-hati karena dua saingannya juga berpotensi meningkatkan perolehan suara.
“Tetapi setidaknya berdasakan potret pertengahan September, itu Khofifah-Emil Dardak unggul signifikan dibanding peringkat kedua dan ketiga. Berarti antara dua rival, Khofifah, Mbak Risma relatif punya peluang untuk menyaingi Mbak Khofifah, meski pun lagi-lagi buat Mbak Luluk kalau ingin menaikkan elektabilitas, mau tidak mau tingkat keterkenalan Mbak Luluk maupun Lukmanul Hakim harus digenjot semaksimal mungkin,” paparnya.
Keunggulan Khofifah, kata Burhanuddin, karena faktor keterkenalannya dan telah memimpin Jawa Timur selama 5 tahun. Apalagi, pilkada kali ini merupakan yang keempat bagi Khofifah.
Meski demikian, katanya, Khofifah kalah dari Risma dalam lima kualitas personal. Indikator menyebutkan kualitas yang dimaksud adalah perhatian kepada masyarakat, jujur dan bisa dipercaya, bersih dari korupsi, tegas dan berwibawa. Khofifah, ujar Burhanuddin, unggul dari Risma dalam variable kemampuan memimpin sih di atas Risma.
“Berpengalaman di pemerintahan, ini Mbak Khofifah sedikit lebih unggul, disusul Mbak Risma. Kemudian orang yang tegas dan berwibawa di sini justru yang unggul adalah Risma. Jadi, kalau misalnya variabel ketegasan atau berwibawa itu yang meningkat, itu yang diuntungkan adalah Risma, jadi Risma punya keunggulan terutama dari sisi karakter di persepsi tegas. Kemudian perhatian sama rakyat, Risma juga sedikit lebih unggul,” ujar Burhanuddin.
Peneliti utama Indikator, Hendro Prasetyo, menambahkan bahwa pertarungan perebutan kursi gubernur di Jawa Timur sangat menarik mengingat provinsi tersebut yang memiliki keragaman dari sisi sosial politik dan budaya, sehingga pendekatan di satu wilayah tidak dapat disamakan dengan pendekatan untuk wilayah lain.
“Kalau Jawa Timur ini sub-kulturnya lumayan, etnis ada Madura, ada sub-etnis lagi. Kemudian ada juga yang disebut Mataraman, dulunya bagian dari wilayah Mataram. Ada juga wilayah lain yang Madura, Madura ini bukan hanya di Pulau Madura, ada juga daerah yang disebut terkenal dengan Tapal Kuda. Terakhir adalah Arek, Arek ini menurut ahli Jawa Timur, ini adalah daerah yang tidak sepenuhnya meski pun itu sebagian dikuasai Mataraman,” jelasnya.
Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo, Madura, Surokim Abdussalam, mengatakan kontestasi politik di Jawa Timur menjadi menjadi arena yang menantang dan rumit, mengingat provinsi itu tidak ramah terhadap pendatang baru.
Dengan jumlah pemilih hampir mencapai 31 juta, Jawa Timur menjadi lapangan pertarungan yang sangat heterogen dan kompleks dibandingkan provinsi-provinsi lain di Jawa. Menurut Surokim, kandidat kepala daerah yang bertarung di Jawa Timur harus memiliki nilai lebih yang cukup signifikan untuk meraih kekuasaan selama lima tahun ke depan.
“Surplus politik itu bisa beragam ya, contohnya dukungan terhadap capres, itu kemarin Bu Khofifah mendukung Pak Prabowo sehingga bisa menang di Jawa Timur, sehingga Pak Prabowo akan punya kewajiban untuk membalas Bu Khofifah, Pak Jokowi juga. Bu Khofifah ketua muslimat, Bu Khofifah incumbent. Surplus seperti itu yang akan nanti menentukan tingkat elektabilitasnya. Semakin banyak surplus yang dimiliki oleh para kandidat-kandidat itu, maka elektabilitasnya tentu akan sangat tinggi,” ujarnya.









