Berbicara di Jakarta, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pihaknya memantau dengan seksama perkembangan situasi di Lebanon. “Kita akan lihat kesempatan yang ada, begitu penerbangan dapat dilakukan tentunya akan kita lakukan. Lebih cepat lebih baik. Jadi sekali lagi situasi sangat dinamis di lapangan, di mana ruang udara bisa dibuka dan kemudian ditutup lagi. Beberapa hari lalu ruang udara di atas Jordan ditutup dan kemudian dibuka, jadi sangat dinasmis. Kita akan terus memantau perkembangan ini,” ujarnya.
Pengamat: Tidak Mungkin Lagi Bicara dengan Hizbullah
Pengamat Timur Tengah di Universitas Indonesia Yon Machmudi mengatakan sudah tidak mungkin meminta pihak Hizbullah melakukan de-eskalasi, karena berlatar peristiwa sebelumnya justru kelompok itu mengancam untuk melakukan serangan-serangan “mematikan” terhadap Israel.
Hal senada juga siap dilakukan Israel. Dalam situasi di ambang perang besar ini, menurut Yon, mustahil Indonesia dapat berkomunikasi dengan Hizbullah.
“Sudah tidak mungkin untuk bisa menurunkan eskalasi konflik karena ini kan sudah menyangkut perlawanan Hizbullah yang sudah sangat lama terhadap Israel. Seharusnya yang bisa dilakukan dunia internasional, khususnya Amerika dan beberapa negara yang punya kedekatan dengan Israel, adalah menekan Israel untuk tidak memperluas konflik karena tentu akan merugikan banyak pihak,” ujarnya.
Dengan tidak memberi dukungan pada Israel, dan membiarkan Israel menyelesaikan konflik ini sendiri dengan Hizbullah, maka akan menurunkan potensi terjadinya perang, tambah Yon.
Hampir 2.000 Warga Lebanon Tewas









