“Respons untuk dapat menghentikan peperangan tidak bisa kompak. Mereka mencoba untuk melakukan pendekatan ke negara-negara lain agar bisa memberikan tekanan kepada Israel, tapi tidak berhasil. Usulan Iran agar menggunakan sumberdaya minyak yang dimiliki anggota OKI guna menekan Israel juga tidak diakomodasi,” ujar Yon
OKI sedianya kembali pada pertemuan terakhir yang memberi mandat kepada enam negara untuk dapat berupaya menghentikan agresi Israel ke Gaza, tambahnya. Mandat itu harus dievaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya saat menghadapi rencana Israel menginvasi Rafah.
“Jika mereka memilih mempertahankan hubungan (dengan Israel), maka negara-negara OKI yang bersangkutan harus membuktikan pula upaya mewujudkan kemerdekaan Palestina secara serius. Hal ini penting agar mereka tidak dianggap berkhianat terhadap rakyat Palestina,” tegasnya.
Ironisnya, menurut Yon, negara-negara tersebut saat ini lebih mengutamakan kepentingan nasional mereka – dalam konteks kerja sama ekonomi dan pertahanan – dengan Israel.
Lebih 35.000 Warga Palestina Tewas
Perang Israel-Hamas di Gaza berawal dari serangan kelompok militant Hamas yang belum pernah terjadi sebelumnya ke selatan Israel pada tanggal 7 Oktober, yang menewaskan 1.200 warga Israel. Hamas juga menculik sekitar 250 orang, yang sebagian besar telah dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata pertama November lalu.
Israel melancarkan serangkaian serangan balasan lewat darat dan udara ke Gaza, wilayah yang dikelola Hamas. Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza mengatakan hingga hari Rabu (16/5) lebih dari 35.000 warga tewas, di mana 52% diantaranya adalah perempuan dan anak-anak. Sementara lebih dari 75.000 lainnya luka-luka. [Red]#VOA








