Sejumlah kampus terus menyampaikan seruan keprihatinan terhadap jalannya konstestasi pemilu 2024. Suara kampus dan masyarakat madani itu ditujukan pada sikap Presiden Joko Widodo dan penyelenggara pemilu lainnya yang diduga meninggalkan jalan demokrasi dan masuk dalam konflik kepentingan.
JAKARTA (DN) – Masyarakat Antropologi Indonesia, Koalisi Perempuan Penyelamat Demokrasi dan HAM, serta Universitas Trisakti adalah tiga entitas terbaru yang menyampaikan keprihatinan dengan carut marut kondisi demokrasi, khususnya pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) 2024.Bertempat di Rumah Bung Hatta, Masyarakat Antropologi Indonesia pada Jumat lalu (9/2) menyampaikan sepuluh hal yang membuat mereka berkumpul dan menyampaikan pernyataan.
Mewakili Masyarakat Antropologi Indonesia, Mulyawan, menyampaikan alasan mengapa mereka sengaja berkumpul di Rumah Bung Hatta.
“Kami menilai (Bung Hatta) sebagai sosok pemimpin dan negarawan pemberi tauladan bagaimana caranya berpolitik dengan santun, bermartabat, dan rendah hati dan tidak melihat kekuasaan dan jabatan sebagai sesuatu yang dapat digunakan secara semena-mena,” tutur Mulyawan.
Salah satu dari sepuluh keprihatinan yang disampaikan itu menyoroti lunturnya etika, moral, nilai kejujuran dan integritas berbangsa dan bernegara yang seyogyanya dijunjung tinggi, praktik yang menormalkan politik kekerabatan dengan memanipulasi peraturan perundangan yang merusak nilai-nilai demokrasi dan banyaknya elit politik yang meredukasi demokrasi sebatas strategis politik yang menghalalkan segala cara.
Presiden Diminta Setop Menyalahgunakan Kekuasaan
Keprihatinan serupa juga disampaikan Koalisi Perempuan Penyelamat Demokrasi dan HAM yang melangsungkan pertemuan terbuka di kawasan Monumen Nasional pada hari yang sama.









