Lonjakan pertempuran di perbatasan Israel-Lebanon selama sepekan ini mendorong Departemen Luar Negeri AS untuk mengeluarkan peringatan perjalanan baru yang mendesak warga negara AS agar meninggalkan Lebanon dengan pesawat komersial selagi mereka masih memiliki opsi tersebut.
Hizbullah dan pasukan Israel saling menembakkan ratusan rudal pada hari Minggu, sementara PM Israel Benjamin Netanyahu berjanji akan melakukan “apa pun yang diperlukan” untuk memulihkan keamanan di Israel Utara.
Netanyahu mengatakan Israel dalam beberapa hari terakhiri ini telah “menghantam Hizbullah dengan serangkaian pukulan yang tidak pernah mereka bayangkan,” seraya menyebut itu sebagai sebuah “pesan.”
Serangan bolak-balik itu mencakup pembalasan Hizbullah atas serangan Israel yang menewaskan para petinggi militer Hizbullah di Beirut pada hari Jumat, sementara kelompok militan itu menyalahkan Israel karena meledakkan dari jarak jauh bahan peledak di dalam penyeranta (pager) dan walkie-talkie di Lebanon, yang menewaskan sedikitnya 32 orang, dan melukai ribuan orang.
Wakil Sekjen Hizbullh Naim Qassem mengatakan Hizbullah telah memulai fase baru dalam perangnya melawan Israel, yang ia gambarkan sebagai “pertempuran perhitungan tanpa akhir”.
Di Washington, Pentagon mengatakan bahwa Menteri Pertahanan AS Lloyd Austin memberitahu sejawatnya, Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant, dalam percakapan telepon Minggu malam bahwa AS mendukung hak Israel untuk membela diri, tetapi “menekankan pentingnya mencari jalan bagi solusi diplomatik yang akan memungkinkan warga di kedua sisi perbatasan kembali ke rumah mereka secepat dan seaman mungkin.”








