Pemerintah Israel telah membantah berulang kali bahwa mereka menyasar para jurnalis. Tetapi CPJ dan kelompok lainnya mengatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) harus bertanggung jawab atas tingginya angka kematian pekerja media. Sebagian besar yang tewas adalah warga Palestina.
“Hanya mereka orang-orang yang bisa melaporkan dari Gaza karena tidak ada wartawan asing yang diizinkan untuk masuk. Jadi, mereka memikul tanggung jawab penuh untuk melaporkan dampak perang di Gaza,” imbuh Ginsberg.
Sementara Daniszewski menambahkan bahwa cedera dan kematian bukanlah satu-satunya risiko yang dihadapi para jurnalis. “Bahaya yang mengancam tidak hanya secara fisik, tetapi juga pengintaian siber dan pelecehan, serta intimidasi terhadap para jurnalis,” ujarnya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mengutuk serangan terhadap para jurnalis; menandai adanya “laporan yang meresahkan” tentang serangan terhadap para pekerja media walaupun mereka sudah diidentifikasi dengan jelas.
Menanggapi laporan PBB tersebut, IDF mengatakan bahwa mereka “tidak dengan sengaja menambaki warga sipil, termasuk para jurnalis.”
Sementara itu, Hajjaj mengingat setiap berita yang diliputnya sejak 7 Oktober 2023. Baginya, beberapa di antaranya terasa sangat berat untuk ditulis. Namun, dia menyadari bahwa sudah menjadi tugasnya untuk terus melaporkan apa yang terjadi. [Red]#VOA








