Menurut CPJ, angka kematian jurnalis hingga 1 Oktober 2024 mencapai 111 orang Palestina, dua orang Israel, dan tiga orang Lebanon. Selain itu, 35 orang dilaporkan terluka, dua orang hilang, dan 54 orang jurnalis ditangkap.
“Ada juga tantangan yang sangat besar dalam hal akses berita bagi para jurnalis. Dari pengalaman saya, ini adalah liputan yang paling terpolarisasi yang pernah kami hadapi sepanjang karir saya sebagai jurnalis,” terang John Daniszewski, wakil presiden kantor berita the Associated Press dan editor at-large untuk standar berita.
Tareq Hajjaj, koresponden Gaza untuk media Mondoweiss, kanal berita online yang meliput wilayah Palestina, Israel, dan kebijakan Amerika Serikat. Hajjaj telah tinggal di Gaza sepanjang hidupnya.
“Setiap kali saya berjalan di bawah drone dan pesawat tempur Israel, saya selalu merasa mereka akan mengebom saya kapan pun, mengelilingi saya, karena saya tahu mereka manyasar para jurnalis, dan saya tahu mereka tidak ingin apa pun dari Gaza diketahui orang,” jelas Hajjaj.
Didirikan sebagai situs berita progresif, Mondoweiss telah menerima kritik yang dianggap sebagian orang sebagai pandangan anti-Israel.










