Aktivis Komunitas Nol Sampah Surabaya, Hanie Ismail, menilai upaya mengelola sampah yang efektif adalah mengajak masyarakat mengurangi produksi sampah. terutama sampah organik yang prosentasenya mencapai 60 persen dari total sampah yang dihasilkan warga. Idealnya, kata Hanie, sampah tetap dapat dikembalikan menjadi barang yang bernilai, tanpa harus membuangnya begitu saja.
“Ketika satu lorong, satu RT memilah sampah dari rumah, ya oke, sampah organik mereka sisihkan, sampah anorganik yang bernilai ekonomis saja yang mereka sisihkan. Sekarang yang tidak bisa bernilai ekonomis itu mereka buang. Seharusnya kan idealnya sampah itu semuanya adalah material yang bisa dikembalikan lagi,” jelas Hanie.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya, Dedik Irianto, mengatakan volume sampah yang dihasilkan sekitar 3 juta warga Surabaya dalam sehari mencapai 1.800 ton. Angka itu belum termasuk sampah yang dihasilkan warga luar Surabaya yang bekerja di Surabaya selama jam kerja. Dedik menambahkan, upaya pengurangan sampah melalui 450 bank sampah di seluruh Surabaya, serta berbagai upaya pengurangan sampah organik di masyarakat, belum cupuk signifikan mengurangi volume sampah di Surabaya.
“1.800 ton itu hanya warga Surabaya, belum komuternya, belum yang dari restoran dan macam-macam itu. Volume yang masuk ke TPA Benowo saat ini kurang lebih 1.300 ton sampai 1.500 ton per-harinya, artinya yang berhasil direduksi, yang berhasil dipilah oleh masyarakat saat ini kurang lebih setiap harinya 300 sampai 500 ton per-hari,” sebutnya.
Dedik berharap, masyarakat mau memilah sampah mulai dari rumah, untuk membantu mengurangi beban volume sampah yang ada di TPA, meski pemerintah kota juga menyediakan 10 TPS 3R yang memiliki fasilitas memilah sampah.
Guru besar Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Warmadewanthi, menilai bank sampah dan komposting merupakan cara yang efektif untuk mengurangi sampah. Namun, kata dia, upaya ini sayangnya belum dilakukan oleh semua orang.









