Sampah masih menjadi masalah utama di Indonesia, khususnya di perkotaan yang jumlah penduduknya terus meningkat. Upaya mengurangi volume sampah seakan beradu cepat dengan produksi sampah yang dihasilkan masyarakat.
Bijaksana Junerosano mengatakan, tidak terkelolanya sampah dengan baik akan dapat meminbulkan berbagai masalah serius, termasuk kerusakann lingkungan, dan gangguan kesehatan masyarakat. Pengurangan konsumsi produk yang menghasilkan sampah, kata Bijaksana, menjadi cara efektif untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
“Caranya apa, aku mengurangi konsumsi itu contohnya, pembatasan, membatasi konsumsi. Kemudian secara sistemik juga perusahaan-perusahaan yang menghasilkan produk, produsen-produsen juga bisa mengikuti upaya pengurangan. Contoh, kemasannya itu dibuat menjadi lebih tipis, jadi secara bobot, secara berat itu dia lebih enteng. Kemudian dia mengurangi jumlah kemasan, nggak usah dobel-dobel. Ada itu produk yang kemasannya itu dobel tiga, ada kertasnya, ada alumuniumnya, ada plastiknya itu, bisa tidak dikurangi sehingga jumlah sampah jadi berkurang,” jelasnya.
Peran serta masyarakat dalam mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPS maupun TPA, juga dipengaruhi kebiasaan perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah. Wahyu Oktorianto, pengelola Bank Sampah Pin-Pin, di RT 5-RW 6 Kelurahan Sambikerep, Surabaya, mengatakan kebiasaan warga yang langsung membuang sampah tanpa memilah karena sudah ada petugas yang mengambil sampah memperlambat upaya pengurangan volume sampah.
“Kalau sudah dalam zona nyaman, mereka mempunyai sampah dibuang ke tempat sampah, dia membayar ke petugas sampah, selesai. Tapi, di sini mereka kan akhirnya harus memilah dan memilih, mana yang bisa dijual, mana yang bisa masuk ke tempat sampah, dan mana yang masuk ke dalam pengolahan sampah organik. Nah, itu yang menjadi kendala buat kita awalnya untuk mengajak mereka,” jelasnya.








