Peran Masyarakat Sipil
Dalam diskusi di FISIP UI awal Desember lalu tentang hal-hal yang mengikis demokrasi, diketahui bahwa demokrasi tergerus tidak saja karena kemunduran dalam prosedur dan substansi kompetisi elektoral yang dipenuhi potensi kecurangan, atau pengalihan persoalan-persoalan kebijakan legislasi ke pengadilan, dan pemanfaatan hukum sebagai alat menyelewengkan kekuasaan, tetapi juga karena terus meluasnya konstruksi budaya bias gender dan misogini dalam politik. Pengikisan ini tidak terjadi sekaligus dan tiba-tiba, tetapi perlahan dan tidak disadari. Di sini lah peran penting masyarakat sipil yang kritis dan tahan banting agar senantiasa ada kontrol terhadap upaya mengikis demokrasi.
Politik Misogini di AS
Patut dicatat bahwa kuatnya politik misogini juga terjadi di negara besar seperti Amerika Serikat (AS). Kandidat calon presiden dari Partai Republik Nikki Haley adalah salah seorang perempuan yang menghadapi serangkaian serangan seksis, mulai dari saat ia mencalonkan diri, saat debat live di stasiun televisi, hingga saat menjelang kaukus Iowa dan pemilihan pendahuluan di New Hampshire Januari 2024 ini.
Dalam debat di Miami baru-baru ini, pebisnis bioteknologi Vivek Ramaswamy yang telah berulang kali menyampaikan kecaman berbasis gender terhadap Haley, secara terang-terangan di hadapan publik menjuluki mantan duta besar Amerika Serikat untuk PBB itu sebagai “Dick Cheney in three-inch heels.”
Ia merujuk pada sepatu perempuan setinggi tiga inchi atau 7,5 sentimeter yang dinilai mengesankan bahwa perempuan lebih tertarik pada penampilan. Dick Cheney adalah Wakil Presiden AS pada Pemerintahan Presiden George W. Bush.
Ibu Negara AS juga salah satu yang kerap menerima kecaman seksis ini. Mulai dari era Jackie Kennedy, Rosalyn Carter, Nancy Reagan, Barbara Bush, Hillary Clinton, Laura Bush, Melania Trump hingga Jill Biden. Atau politisi seperti Nancy Pelosi, Alexandria Ocasio-Cortez, atau Liz Cheney.
“Kekerasan semiotik” lewat kata-kata atau gambar untuk merendahkan perempuan atau tokoh politik perempuan, yang pada akhirnya melemahkan kesetaraan dan demokrasi. [Red]#VOA










