Politik Misogini Menguat di Pilpres 2024, Ciri Erosi Demokrasi?

  • Whatsapp
Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri dan putrinya, Puan Maharani, yang saat itu menjabat Menko Pembangunan Manusia dan Budaya, menghadiri pelantikan Presiden Joko Widodo di Gedung DPR/MPR, 20 Oktober 2019. (Foto: Adek Berry/Pool Photo via AP)

 

Ibu Sinta Nuriyah menyuguhkan bubur merah putih kepada Presiden Jokowi, yang mengunjunginya pada haul Gus Dur ke-78. (Foto : Setpres RI)
Ibu Sinta Nuriyah menyuguhkan bubur merah putih kepada Presiden Jokowi, yang mengunjunginya pada haul Gus Dur ke-78. (Foto : Setpres RI)

Peran Masyarakat Sipil

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Dalam diskusi di FISIP UI awal Desember lalu tentang hal-hal yang mengikis demokrasi, diketahui bahwa demokrasi tergerus tidak saja karena kemunduran dalam prosedur dan substansi kompetisi elektoral yang dipenuhi potensi kecurangan, atau pengalihan persoalan-persoalan kebijakan legislasi ke pengadilan, dan pemanfaatan hukum sebagai alat menyelewengkan kekuasaan, tetapi juga karena terus meluasnya konstruksi budaya bias gender dan misogini dalam politik. Pengikisan ini tidak terjadi sekaligus dan tiba-tiba, tetapi perlahan dan tidak disadari. Di sini lah peran penting masyarakat sipil yang kritis dan tahan banting agar senantiasa ada kontrol terhadap upaya mengikis demokrasi.

Politik Misogini di AS

Patut dicatat bahwa kuatnya politik misogini juga terjadi di negara besar seperti Amerika Serikat (AS). Kandidat calon presiden dari Partai Republik Nikki Haley adalah salah seorang perempuan yang menghadapi serangkaian serangan seksis, mulai dari saat ia mencalonkan diri, saat debat live di stasiun televisi, hingga saat menjelang kaukus Iowa dan pemilihan pendahuluan di New Hampshire Januari 2024 ini.

Mantan dubes AS untuk PBB Nikki Haley beradu pendapat dengan pebisnis Vivek dalam debat bakal calon presiden dari Partai Republik yang dipandu FOX News Channel, 23 Agustus 2023 di Milwaukee. (Foto: Morry Gash/AP Photo)
Mantan dubes AS untuk PBB Nikki Haley beradu pendapat dengan pebisnis Vivek dalam debat bakal calon presiden dari Partai Republik yang dipandu FOX News Channel, 23 Agustus 2023 di Milwaukee. (Foto: Morry Gash/AP Photo)

Dalam debat di Miami baru-baru ini, pebisnis bioteknologi Vivek Ramaswamy yang telah berulang kali menyampaikan kecaman berbasis gender terhadap Haley, secara terang-terangan di hadapan publik menjuluki mantan duta besar Amerika Serikat untuk PBB itu sebagai “Dick Cheney in three-inch heels.”

Ia merujuk pada sepatu perempuan setinggi tiga inchi atau 7,5 sentimeter yang dinilai mengesankan bahwa perempuan lebih tertarik pada penampilan. Dick Cheney adalah Wakil Presiden AS pada Pemerintahan Presiden George W. Bush.

Haley dengan senyum sinis membalas, “Anda salah, ini lima inchi (12 sentimeter)… dan saya mengenakan sepatu tinggi ini bukan sebagai fashion statement, tetapi sebagai amunisi.” Pernyataan Haley disambut tepuk tangan dan sorak sorai penonton debat itu.

Ibu Negara AS juga salah satu yang kerap menerima kecaman seksis ini. Mulai dari era Jackie Kennedy, Rosalyn Carter, Nancy Reagan, Barbara Bush, Hillary Clinton, Laura Bush, Melania Trump hingga Jill Biden. Atau politisi seperti Nancy Pelosi, Alexandria Ocasio-Cortez, atau Liz Cheney.

“Kekerasan semiotik” lewat kata-kata atau gambar untuk merendahkan perempuan atau tokoh politik perempuan, yang pada akhirnya melemahkan kesetaraan dan demokrasi. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *