Politik Misogini Menguat di Pilpres 2024, Ciri Erosi Demokrasi?

  • Whatsapp
Ketua Umum PDI-P Megawati Sukarnoputri dan putrinya, Puan Maharani, yang saat itu menjabat Menko Pembangunan Manusia dan Budaya, menghadiri pelantikan Presiden Joko Widodo di Gedung DPR/MPR, 20 Oktober 2019. (Foto: Adek Berry/Pool Photo via AP)

Surat kabar The New York Times pada 25 Februari 1972 mempublikasikan laporan yang merujuk pada julukan Ibu Tien sebagai “Madam Ten Percent,” mengacu pada upeti yang harus diberikan agar sebuah proyek disetujui pemerintah.

Pada era Orde Lama, ada tekanan terhadap istri kelima presiden pertama Indonesia, Sukarno, Naoko Nemoto yang dikenal publik sebagai Dewi Sukarno, dan kerap menjadi sasaran utama demonstran. Ia diberi julukan yang bersifat merendahkan sebagai “Gundik Jepang.”

Meminimalkan Potensi Perempuan

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Mantan Komisioner Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah menyesalkan banyaknya stereotip yang dilabelkan terhadap perempuan.

“Orang sibuk menempelkan berbagai stereotip pada perempuan. Berbagai konstruksi ini membuat perempuan-perempuan yang punya potensi justru dikandangkan, tidak diberi peran publik yang signifikan dan hanya diberi peran ornamental. Orang tidak tahu bahwa mereka memainkan peran penting. Saya ketika bertemu almarhumah Ibu Ani Yudhoyono, cukup surprise, ternyata beliau orang yang sangat cerdas, pemahaman akan isu lingkungannya cukup bagus, visioner. Dulu Ibu Tien Soeharto dengan PP-10 mencegah seluruh PNS untuk poligami. Prestasi-prestasi ini tidak dimunculkan. Yang muncul justru soal stereotip-stereotip itu,” tuturnya.

Yuni juga mengkritisi kecaman terhadap Megawati Soekarputri.

“Sebagai tokoh perempuan yang menentang kediktatoran dan berani mendirikan partai yang kemudian menjadi besar. Lepas dari kritik terhadapnya, Megawati adalah tokoh perempuan yang harus diapresiasi karena sangat taat konstitusi. Ketika ada upaya untuk menambah masa jabatan presiden menjadi tiga periode, Megawati adalah tokoh yang berteriak paling keras, mengingatkan pentingnya kembali ke konstitusi yang membatasi masa jabatan presiden hanya untuk dua periode. Jika ingin melihat sisi positif beliau sebagai perempuan yang berani dan konsisten, hal ini malah tidak dimunculkan di publik. Yang muncul justru, wah, dia sangat dominan, dia berpotensi menguasai ini dan itu. Sementara kalau laki-laki dominan dan menguasai segala macam tidak menjadi masalah,”papar Yuni.

Gerakan Perempuan vs Konservatisme

Gerakan perempuan di Indonesia memang berkembang sangat pesat pasca reformasi 1998, namun aktivis dan penulis independen Julia Suryakusuma juga mengingatkan menguatnya konservatisme, yang tak jarang menggerus upaya memajukan perempuan.

“Sebenarnya ini sudah ada sejak dulu. Tidak saja dalam soal politik tapi juga keseharian. Ingat bagaimana jika ada suami yang menyeleweng, yang disalahkan istrinya karena dinilai tidak dapat menyenangkan suami. Jika ada anak yang nakal atau narkoba, yang disalahkan juga ibunya. Nah, saat ini karena persaingan lebih keras, jadi semua hal dijadikan bahan kritik dan peningkatan misogini semakin kuat. This is nothing new. Ini hanya soal kadar, derajat, yang lebih akut. Tidak berarti akan menurun karena konservatisme di seluruh dunia juga terus meningkat. Bahkan saya kaget ketika Anda mengatakan di Indonesia ini juga ada femisida,” kata Julia.

Mantan Komisioner Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah.
Mantan Komisioner Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah.

Yuniyanti Chuzaifah, yang ikut mengupas laporan Komnas Perempuan tentang femisida di awal Desember lalu, menyebut tentang kasus pembunuhan Tetty Rumondang Harahap.

Tetty yang merupakan istri kedua Ahmad Yuda Siregar, menolak memberi uang Rp.50 miliar kepada suaminya untuk modal maju ke pemilihan kepala daerah di Batam, Kepulauan Riau. Kepalang berhasrat menjadi orang nomor satu di Batam, Ahmad Yuda membunuh Tetty dengan menusuk leher dan membakarnya pada November lalu. Pelaku kini dijerat dengan Pasal 340 KUHPidana dengan ancaman hukuman mati.

Yuniyanti Chuzaifah, yang lama makan asam garam di lapangan, semua tantangan ini harus dijawab oleh perempuan juga, berkelompok atau secara individual. Kita tidak boleh surut langkah, ujarnya.

“Untuk individu, kita punya Ibu Sinta Nuriyah yang meskipun memiliki keterbatasan fisik tetapi masih sangat luar biasa mobilitasnya dalam berbagai kegiatan memajukan pluralisme misalnya. Meskipun tetap saja akan dikonstruksikan oleh para produsen opini dan juga media sebagai sosok yang tidak berdaya. Bahkan tidak jarang mengecilkan peran sentral yang bisa dimainkan perempuan dengan memperlebar atau melembagakan peran domestiknya. Misalnya, dengan program makan siang gratis yang diajukan salah satu cawapres, mengalokasikan 400 triliun rupiah untuk menstimulasi ibu-ibu pemilik warung, atau bahkan ibu rumah tangga, memasak makanan sehat bagi anak-anak. Mengapa ketika soal memasak dan membesarkan generasi hebat, hanya perempuan yang dilibatkan, seakan-akan ini bukan pekerjaan laki-laki,” kata Yuniyanti.

Sementara Julia Suryakusuma menyoroti akar masalah stunting yang menurutnya tidak hanya karena soal kurang gizi, tetapi juga perkawinan dini dan kemiskinan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *