TotalEnergies Prancis mengumumkan pada bulan lalu bahwa mereka membeli 50 persen saham Sapura yang berkantor pusat di Malaysia. Selain itu, perusahaan migas AS Chevron juga mengakuisisi Hess yang memiliki aset di Malaysia.
Secara terpisah, Pertamina dan Petronas dari Malaysia mengakuisisi 35 persen saham Shell di blok gas alam Masela yang dioperasikan Inpex.
Pada Januari, perusahaan energi negara Malaysia, Petronas, memberikan kontrak bagi hasil untuk enam blok eksplorasi pada putaran penawaran 2023. Selain itu Malaysia juga melakukan penawaran eksplorasi sepuluh blok dan cluster kepada calon investor pada tahun ini.
Indonesia juga berencana untuk menawarkan lebih banyak blok minyak dan gas di cekungan Sumatra Utara pada tahun ini menyusul penemuan besar oleh Mubadala Energy di Blok Andaman Selatan. Pemerintah juga sedang mengevaluasi insentif fiskalnya untuk menarik investasi pada sumber daya non-konvensional.
“Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Indonesia dan Malaysia mendapatkan penemuan besar, sehingga menambah momentum secara keseluruhan. Hal itu mendorong minat yang lebih besar terhadap eksplorasi,” kata analis Rystad Energy, Prateek Pandey.
Malaysia kemungkinan akan mengebor sekitar 30 sumur eksplorasi pada tahun ini dan 35 sumur pada 2025, naik dari 8 sumur pada 2021, katanya, sementara Indonesia akan mengebor sekitar 40 sumur tahun ini, dibandingkan 20 sumur selama pandemi COVID.








