Selain itu, begitu gelap, bermacam binatang buas lebih banyak keluar, mencari mangsa. “Tidak usahlah saya sebut binatang apa saja,” cetus Taufik.
Secara keseluruhan, Taufik mengatakan salut pada tim KSK, yang begitu berdedikasi dalam menjalankan tugas. Ia pun salut pada para pekerja di kapal yang tetap memikirkan demokrasi di Tanah Air.
Di Moskow, Ketua PPLN Rusia dan Belarus Raymond Sihombing menghadapi situasi berbeda, udara yang sangat dingin. Pada hari pemilihan, suhu udara di Moskow minus 30 derajat Celsius. Itu dianggap hangat bagi orang di Siberia. Di daerah lain yang terpencil, suhu udara bisa mencapai minus 75 derajat Celsius.
“Kurir tidak mau mengantar surat karena udara demikian dingin. Mereka biasanya mengirim pesan di ponsel, memberitahu bahwa ada kiriman surat, silakan ambil segera,” kata Sihombing.

Selain suhu yang dingin ekstrem, mereka menghadapi tantangan cakupan wilayah kerja yang luas. Rusia terbagi dalam 9 zona waktu. Dari Moskow ke Vladivostok, misalnya, perjalanan udara bisa sampai pukul 21.00.
Semula, tim PPLN menawarkan KSK untuk tempat-tempat yang jauh dan terpencil, selain memilih melalui pos dan datang ke tempat-tempat pemungutan suara (TPS). “Akhirnya kami sendiri yang mundur,” kata Sihombing.
“Karena tukang pos aja gak mau ke sana saking dinginnya,” imbuhnya.
Pemilu Indonesia di luar negeri sudah dilaksanakan di sebagian besar bagian dunia, lebih cepat dari pelaksanaan di Indonesia. Menurut KPU, lebih dari 1,7 juta diaspora Indonesia memberikan suara. Penghitungan surat suara akan dilakukan pada 14 Februari untuk surat suara TPS dan 15 Februari untuk surat suara yang dikirim melalui pos.
Taufik berharap pemilu hanya satu putaran. Kalau dua? Taufik tertawa getir. Terbayang perjalanan darat 10 jam harus melalui berkali-kali pos pemeriksaan, ditambah perjalanan belasan jam di sungai dan laut di bawah sengatan suhu panas 41 derajat Celsius, dirubung lalat, diintai buaya, dan… ia masih merasakan kepanikan tatkala hiu menyundul-nyundul perahu. [Red]#VOA







