Setelah tiba beberapa saat di laut lepas, lalat pergi. Tetapi, mesin kapal mendadak mati. Semua panik. Bagaimana mendapatkan pertolongan segera? Kalau di darat, mobil mogok bisa didorong. Kalau kapal di laut, bagaimana mendorongnya?

Kepanikan bertambah karena tiba-tiba kapal goyang gara-gara disundul-sundul hiu. Orang lokal dalam tim mengingatkan agar tenang, tidak panik, dan tidak bersuara. Taufik menyampaikan apa yang dikatakan orang lokal itu.
“Kalau kita tenang, mereka akan pergi. Mereka ngetes doang. Tetapi kalau kapalnya jatuh ya dimakan,” katanya.
Setelah beberapa kali menyundul dan kapal tidak terbalik, hiu itu pergi. Taufik merasa lega. Mozambik memang terkenal akan hiunya yang bisa hidup di air asin maupun air tawar.
Taufik mengaku tidak menyangka akan disundul hiu. Ia memperkirakan akan berhadapan dengan buaya. Makanya ia mengajak serta seorang pawang buaya. Nyatanya, buaya hanya mengintai.
Ia ingin minum tetapi tidak ada air. Semua orang lupa membawa perbekalan makanan dan minuman. Jadi, sepanjang hari mereka tidak makan dan tidak minum. Padahal suhu demikian panas, 41 derajat Celsius.
Mesin kapal kembali hidup, perjalanan berlanjut. Setelah 14 jam, mereka tiba di sisi kapal tambang pasir besi. Kotak suara keliling (KSK) disiapkan, dan satu per satu warga Indonesia di kapal turun ke sampan dan memberikan suara. Tuntas sudah tugas hari itu.
Namun, bukan berarti perjalanan KSK tuntas. Keesokannya, tim petugas pemilu itu menempuh perjalanan serupa ke arah berbeda, untuk menyambangi 28 warga Indonesia yang bekerja di kapal nelayan.
Perjalanan harus diselesaikan sebelum hari gelap, sebelum buaya leluasa bergerak mencari makan. Karena, kata Taufik, buaya bisa loncat ke sampan untuk menangkap mangsa.








