Perempuan dan Politik: di Yogya atau West Virginia Nasibnya Sama

  • Whatsapp
Ketua DPR RI Puan Maharani saat diwawancarai awak media usai menerima kelompok-kelompok perempuan. (Foto: Humas DPR)

Sistem tertutup yang disebut Eva diterapkan di masa lalu, di mana partai berperan lebih besar dibanding caleg. Prioritas juga diberikan dengan mendudukkan caleg tertentu di nomor urut jadi. Dalam sistem ini, jika partai berkomitmen menjadikan perempuan sebagai wakilnya di parlemen, maka yang dilakukan adalah menempatkan caleg perempuan di nomor urut 1.

Seorang perempuan bersepeda melewati bendera partai politik jelang Pemilu 2019 di Banda Aceh, 23 Maret 2019. (Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN)
Seorang perempuan bersepeda melewati bendera partai politik jelang Pemilu 2019 di Banda Aceh, 23 Maret 2019. (Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN)

“Karena sistem terbuka pada saat perut kosong, dan pada saat indeks persepsi korupsi kita itu demikian rendah, itu membuat perilaku semua yang terlibat itu jadi korup,” tambah Eva.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Eva menekankan, ada semacam sikap di kalangan pemilih, bahwa amplop dari caleg merupakan hak bagi mereka.

“Jalan melindungi perempuan dan kelompok marjinal adalah kalau tertutup itu, dan yang kedua biayanya lebih murah. Orang lebih waras,” kata dia lagi.

Aktivis perempuan Damairia Pakpahan menganggap penting meningkatnya jumlah politisi perempuan di parlemen.

“Jadi diharapkan memang meningkatnya keterwakilan perempuan di arena politik itu menghasilkan perubahan kebijakan,” kata dia dalam diskusi yang sama.

Selain persoalan jumlah, perempuan di politik juga menanggung beban soal kapasitas. Salah satu contohnya adalah dengan ketua DPR yang seorang perempuan dan persentase seperlima dari jumlah total anggota, masih banyak agenda perempuan Indonesia terabaikan.

“Kita juga tahu ya, ternyata Undang-Undang Perlindungan Pekerja Rumah Tangga dan Undang-Undang Perlindungan Masyarakat Adat, belum lagi Undang-Undang Kesetaraan Gender, boro-boro ya. Jadi itu juga kadang-kadang, enggak nyambung,” kata Damairia.

Bisa dimaklumi kemudian jika Juminem, sebagai aktivis PRT maju sebagai caleg. Dia dan juga banyak perempuan lain merasa, menitipkan aspirasi mereka ke anggota DPR yang tidak memahami kepentingan mereka, tidak akan membuahkan hasil maksimal.

Damairia juga menyentil soal mahalnya biaya pencalonan, yang menjadi persoalan dan belum diselesaikan sampai saat ini.

Cerita Sama di Amerika

Dari belahan dunia lainnya, Associated Press melaporkan kondisi yang nyaris sama di Amerika Serikat. Hampir 130 tahun sejak tiga perempuan pertama terpilih menduduki jabatan legislatif negara bagian di AS, perempuan masih sangat sedikit terwakili di badan legislatif tingkat ini.

Di 10 negara bagian, politisi perempuan jumlahnya kurang dari 25 persen dari jumlah anggota badan legislatif negara bagian. Data ini dikumpulkan oleh Rutgers’ Center for American Women in Politics.

Tempat pemungutan suara di Weberwood Elementary, 14 Mei 2011 di Charleston, West Virginia. (Foto: AP)
Tempat pemungutan suara di Weberwood Elementary, 14 Mei 2011 di Charleston, West Virginia. (Foto: AP)

West Virginia berada di urutan paling bawah dalam daftar tersebut, dengan hanya memiliki 16 perempuan dari 134 anggota Badan Legislatif, atau di bawah 12 persen. Angka rendah serupa juga ditemukan di negara bagian selatan seperti Mississippi, South Carolina, Tennessee, dan Louisiana.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *